Roket Sudah Lepas Landas

Tugu tinggal landas di depan Kantor Bupati Nabire _ Bumiofinavandu.

Tengah hari putih membias dari tembok gedung-gedung perkantoran di sepanjang Jalan Merdeka Nabire itu, berdiri seorang pekerja dengan celana panjang hitam berbaju putih dan kain yang dililit pada kepalanya. Ia gurat garis cat kuning sepanjang seng yang menutupi bekas bangunan Tugu Roket yang baru saja dihancurkan.

Penghancuran tugu ini terbilang picu polemik di kalangan warga lantaran Tugu Roket telah lama membersamai kehidupan mereka di kota ini. Upaya-upaya nostalgis dihadirkan barangkali untuk menginterupsi pembongkaran ini atau hanya sekadar mengenang. Protes bernada ironi saling silang sepanjang hari di sosial media.

Bacaan Lainnya

Namun tak sepenuhnya satu suara. Hal ini terlihat dari pemungutan suara yang diinisiasi seseorang atau media. Pada situs Polingkita[1], 527 orang berpartisipasi dengan persentase 50,9% setuju dan 49,1% tidak setuju. Sedangkan pada Grup Facebook Nabirenet[2], ada 142 orang berpartisipasi dengan persentase 27% setuju, 66% tidak setuju, 2% tidak tahu, dan 2% menuliskan opsi pilihan dengan merujuk efesiensi pembangunan kota yang seharusnya tidak lebih mementingkan hal-hal yang dekoratif tetapi justru yang efisien seperti pembangunan infrastruktur dan lain-lain.

Tugu ini membuat orang-orang terbagi. Tentu saja, ada yang karena memang secara nostalgis menganggap tugu ini bagian dari “tubuhnya”, ada juga yang masih terpengaruh dengan pilihan politik, atau berusaha tak mengambil sikap lantaran ingin membaca kecenderungan warga lebih dulu untuk kepentingan tertentu.

Roket dan Kearifan Lokal

Saya tak pernah tahu seperti halnya mengapa tempat-tempat wisata di Nabire banyak “menghadirkan hal-hal yang jauh”, roket dipilih sebagai ikon yang didirikan tepat di depan kantor bupati Nabire. Saya sering menduga bahwa roket barangkali metafora dari titik berangkat—sebagaimana ia menjadi titik nol kota, atau simbol “kemajuan” yang identik dengan penemuan-penemuan.

Setelah pembongkaran tugu, saya jadi tahu tugu itu konon persembahan dari masyarakat Jawa Timur. Juga ada tugu Kalpataru yang dipersembahkan masyarakat Jawa Barat, Tugu Cendrawasih persembahan masyarakat Jawa Tengah, dan Tugu Pattimura persembahan masyarakat Maluku. Dengan dalih ini, tugu-tugu itu lalu disyaratkan sebagai simbol “Indonesia”—Bhineka Tunggal Ika.

Kalaupun demikian, jika setiap kota mesti membangun suasana “Indonesia”, lalu di mana posisi kota itu sendiri yang punya lokalitas dan konteks sosial budaya? Kalaupun juga seperti itu, saya pikir Tugu Cendrawasih-lah yang agaknya bisa menjadi cara “mempersembahkan” sesuatu pada Nabire, yang memang identik dengan cendrawasih. Rupanya ini juga jadi titik tolak berangkatnya pemikiran tugu itu oleh Bupati Nabire, “…baik Tugu Roket maupun Tugu Kalpataru di Jalan Merdeka, tidak ada symbol Papua. Pada tugu itu, tidak ada satu pun gambar yang menunjukkan symbol Papua, alias tidak ada kearifan lokal.”[3]

Saya tak pernah menyangkal bentuk, tapi tak juga ingin terjebak olehnya. Dalam kenangan saya, tugu roket hanya sebuah ruang yang tak bisa dimengerti. Menghubungkannya dengan kota ini rasanya tak segendang sepenarian kecuali sebagai saksi atas beberapa peristiwa yang terjadi di sana. Ia tak juga menginspirasi saya untuk “terbang” sebagaimana monumen Barack Obama di Taman Menteng dimaksudkan menginspirasi anak-anak untuk jadi orang hebat.

Maksud saya, roket tak pernah jadi kendaraan ke pasar, atau antar jemput pacar. Ia juga bukan sesuatu yang ditemukan dan dimulai atau dikembangkan di kota ini. Ia barangkali memang terkenang, atau menubuh bersama kita. Tapi bukankah banyak ruang juga berfungsi seperti itu? Pohon ketapang di Pantai Nabire, toko boneka di dekat Taman Gizi, dan lain-lain.

Tugu adalah barangkali adalah sebuah monumen, yang artinya, “…mengingat dan mengingatkan. Pada monumen melekat dua hal. Satu, sebuah ‘kenangan kolektif’ akan sebuah waktu atau sebuah peristiwa. Dua, kekekalan. Kata kolektif di sini tentu saja mengantung ambiguitas, karena kolektivitas selamanya hegemonik; selalu ada pihak yang memegang kontrol dan ada yang tersisih… di dalam monumen lalu disiratkan

nilai-nilai yang setiap saat mampu menggugah, mengetuk, dan menggetarkan hati”.[4]

Sebab inilah barangkali kita tidak mampu tergugah, terketuk, dan tergegar hatinya tiap kali berhadapan dengan Tugu Roket. Karena kita tak punya ‘kenangan kolektif’ tentang roket sama sekali.

Memori Kolektif

Konon pengganti Tugu Roket adalah Tugu Nabire Hebat yang didesain dengan logo Kota Nabire sebagai ikon utamanya. Hal ini tentu saja juga bisa picu polemik lantaran logika pembongkaran dengan dalih tak mengandung unsur kebudayaan Papua, tak juga jadi dalih pembangunan tugu yang baru itu.

Saya sudah kadung membayangkan bentuk tugu dengan sebutan-sebutan untuk Kota Nabire: Kota Singkong, Kota Jeruk, Kota Emas, dan lain-lain, yang boleh jadi opsi ikon yang akan dibangun. Rupanya saya keliru. Padahal logo kota Nabire sudah punya ruang tayang cukup banyak pada ruang-ruang kota, apalagi dibangun dekat perkantoran yang dengan mudah kita jumpai logo kota ini.

Kalaupun kita kehabisan akan untuk membangun monumen untuk menginspirasi, barangkali bisa saja tugu itu menghadirkan sebuah melankolia, memori kolektif untuk murung bersama. Misalnya dengan mengangkat gempa sebagai metafora dalam ikon-ikon tertentu. Ini menjadi penting lantaran, “Jika melankolia individu dapat membuat orang kritis terhadap dirinya sendiri, demikian pula melankolia kolektif terhadap suatu bangsa atau penduduk kota yang mengalaminya. Dengan murung bersama, mereka dapat mengenal diri sebagai sebuah kesatuan dan, pada akhirnya, menghadapi situasi-situasi pelik juga sebagai sebuah kesatuan”.[5]

Apalagi masih masih jelas terasa situasi Pilkada yang tak kunjung menemukan ujung untuk saling urun daya membangun kota. Gempa juga pada akhirnya mengingatkan kita, juga pemerintah kota untuk membangun arsitektur yang sesuai dengan sejarah bencana kita. Atau memang barangkali, tak adalah ruang-ruang yang membicarakan kita, membicarakan warga, dengan menempatkan mereka sebagai pemberi tafsir dan penafsir atas apa yang mereka hendaki.

Jika sudah seperti ini, tugu-tugu selalu akan dibangun hanya sebagai sebuah “statement”. Ketika kita menatapnya, kita hanya akan menghadapi sebuah kekosongan, sebuah ornamen-ornamen yang tampak jauh dari apa yang kita temui sehari-hari. Kita tidak lagi tergugah, lantaran setiap beberapa tahun sekali, misalnya, sebuah tugu akan berubah lagi hanya untuk menegaskan sesuatu, “kekusaan” misalnya.

Warga lalu hanya jadi penafsir yang setiap kali hal itu terjadi, meski merelakan lagi satu kenangannya kehilangan basis material, meskipun sebagai tugu, roket hanya jadi material yang tak lekat dengan keseharian. Tetapi barangkali, ada seseorang yang pernah mengutarakan cintanya di sana. Ada diputuskan cintanya pada tugu itu. Minimal ia jadi semacam cermin yang membuat seseorang ketika melihatnya, ia sedang melihat dirinya sendiri.[*]

Dapatkan update berita Bumiofinavandu.com dengan bergabung di Telegram. Caranya muda, Anda harus menginstall aplikasi Telegram terlebih dulu di Android/Ponsel lalu klik https://t.me/wartabumiofinabirepapuatengah lalu join. Atau dapatkan juga di medsos (Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Tiktok) dengan nama akun Warta Bumiofi.

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. It’s a pity you don’t have a donate button! I’d without
    a doubt donate to this excellent blog! I suppose for now
    i’ll settle for book-marking and adding your RSS feed to my Google account.
    I look forward to brand new updates and will share this website with my Facebook group.

    Chat soon!

  2. What i do not realize is in fact how you’re not really much more well-favored than you might be now. You are so intelligent. You understand therefore significantly in terms of this matter, produced me in my opinion imagine it from a lot of varied angles. Its like women and men don’t seem to be interested except it is something to do with Woman gaga! Your individual stuffs nice. All the time care for it up!