Yayasan KSK Nabire akan selenggarakan pesta budaya Papua dan pameran expo

Ketua Yayasan Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Pastor Yohanes A. Setiyono, SJ (Kanan), Minggu (12/06/2022). – Bumiofinavandu.

Nabire, Bumiofinavandu – Yayasan Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Papua, akan menyelenggarakan pesta budaya Papua dan pameran expo dari hasil produk karya anak-anak Papua. Kegiatan tersebut rencananya akan diselenggarakan pada selama dua hari yakni 17- 18 Juni 2022 (Jumat dan Sabtu).

Ketua Yayasan Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Pastor Yohanes A. Setiyono, SJ, mengatakan pameran akan diselenggarakan di halaman gereja KSK Nabire, dengan menggunakan halaman parkir dan taman gedung auditorium.

Bacaan Lainnya

“Ini karya-karya dari anak Papua yang akan ditampilkan,” ujar Romo Agus usai ibadah Minggu sore (12/06/2022)>

Romo Agus, sapaan akrab pastor paroki KSK Nabire menjelaskan, pameran dimaksud dilaksanakanan berdasarkan gagasan dari yayasan KSK. Tujuannya adalah untuk mengembangkan karya dari anak-anak putus sekolah yang belajar di dalam pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) dari KSK Nabire.

PKBM ini menampung hampir 70 anak dari paket A, B dan C. Dan didampingi oleh 15 tenaga pengajar. Maka yayasan menghendaki agar tidak hanya belajar di kelas, tetapi praktek langsung dengan belajar termasuk berorganisasi dan sebagainya guna meraih target untuk sebuah misi tujuan.

“Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk target internal adalah pengembangan Sumber daya manusia (SDM) masyarakat Papua terutama anak-anak muda. tentu saja mereka tidak bisa sendiri harus tetapi perlu di temani oleh senior yang adalah pengurus dewan paroki KSK dan pengurus yayasan KSK. Sedangkan untuk eksternal, kita menginginkan agar manusia dan Papua menjadi hal yang penting di kehidupan kita. Siapa pun yang tinggal di Papua baik itu masyarakat asli ataupun pendatang, harus memahami manusia dan di budaya Papua,” jelas Romo Agus.

Sehingga kata Romo, melalui tema “pesta budaya, yayasan KSK ingin mengeksplorasi dan menunjukkan apa itu budaya Papua”. Baik dalam bentuk kostum, pakaian, tradisi, tari-tarian serta hasil karya tangan. Seperti makanan, noken, moge, koteka, karapen dan sebagainya.

Tujuan eksternal lain kata Romo Agus, adalah yayasan menginginkan agar masyarakat dalam keberagaman itu tetap sata (bersatu). Meskipun masyarakat Papua terdiri dari pegunungan dan pesisir, namun dengan keberagaman suku dan budaya adalah satu kesatuan sebagai masyarakat yang hidup di Tanah yang kaya.

Maka harus mampu bekerja sama untuk menghasilkan hasil karyanya. “Unity In diversity” (Dalam keberagaman ada kesatuan). Sehingga manusia dan budaya Papua menjadi sesuatu yang penting untuk menjadi sebuah identitas.

“Dan akan ditampilkan juga tari-tarian, lagu serta produk hasil anak muda,” kata Romo.

Sehingga lanjut Romo Agus, kehadiran gereja dalam kehidupan manusia mestinya membawa suatu misi yaitu cinta kasih. Dan gereja hadir di atas Tanah Papua dan budaya (budaya Papua), harus menyatu dengan manusia dan budaya itu sendiri. Sehingga menjadi kesatuan untuk membangaun misi Gereja kekudusan.

Untuk itu, budaya jangan dilihat dengan pandangan sebelah mata atau plus minusnya. Sebab kelebihan ataupun kekurangan budaya, merupakan kearifan yang tidak bisa dibanding bandingkan mengingat disana (budaya) ada kearifan lokal.

“Dan kehadiran gereja yang dapat diterima oleh budaya apa saja dan manusia apa saja. Maka gereja dengan pewartaannya dimaksud untuk penyelamatan bukan mengkristenkan, tetapi untuk mengambil bagian dalam pengampunan dalam kesejahteraan, kemiskinan dan membawa orang dalam suatu nilai kemaknaan yang kita harapkan,” pungkasnya.(*)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.