Gelar Halalbihalal, ini pesan Ketua Ikemal Nabire

Ketua Ikemal Nabire, Edward A. Berhitu, ketika bersalam-salaman dengan warganya pada acara Hahalbihalal Ikemal Nabire. Sabtu, (28/05/2022). – Bumiofinavandu.

Nabire, Bumiofinavandu – Ikatan Keluarga Maluku (Ikemal) Cabang Nabire, Papua, menggelar acara Hahalbihalal di Gedung Islamic Centre, Kompleks Masjid Agung Nabire pada Sabtu, (28/05/2022). Acara itu dihadiri oleh Ketua Ikemal Nabire Edward A. Bertihu, ST. MT, para sesepuh Maluku, 18 Ketua-ketua Kerukunan Maluku dibawah naungan Ikemal Nabire beserta Masyarakatnya.

Dalam sambutannya, Ketua Ikemal Nabire Edward A. Berhitu mengajak seluruh masyarakat Maluku yang bergabung di Ikemal Nabire untuk mengedepankan rasa saling memiliki satu sama lain. Apalagi ada sejarah kelam yang terjadi, maka tidak dan jangan sampai hal ini terulang di masa mendatang.

Bacaan Lainnya

Berhitu mengajak agar warga Maluku yang bisa saling memiliki Kita pernah tercabik-cabik di tahun 1999 dan tanggung jawab besar kita anak Maluku tidak boleh terjadi lagi itu kesalahan yang tidak boleh terjadi lagi. Masyarakat Maluku di Nabire diminta untuk menjaga rasa saling memiliki seperti nenek moyang moyang terdahulu yang hidup dengan menjunjung tinggi semboyan “Ale Rasa Beta Rasa Potong Di Kuku Rasa Daging”.

“Rasa pela gandong kita terlalu besar, kalau kita rusakkan berarti itu dosa besar,” ajak Berhitu.

Kata Berhitu, Ikemal Cabang Nabire akan terus menyelenggarakan tiga acara tiga rutin tiap Tahun, yakni Halalbihalal, Natal Bersama serta perayaan HUT Pattimura. Tiga kegiatan tersebut bukan merupakan acara hura-hura, namun momen untuk orang Maluku bertemu dan saling memaafkan yang sebagai wujud dari perayaan kemanusiaan, agama, jenis kelamin dan asal usul, sebagai anugerah.

Manusia sejak lahir tidak memilih agama. Nantinya, setelah besar barulah manusia tahu bahwa dia beragama Islam, Kristen dan sebagainya yang merupakan sebuah anugerah bagi manusia maka wajib dinikmati.

“Maka pertemuan semacam ini namanya perayaan kemanusiaan yang Tuhan memberikan, dengan berbagai perbedaan kita perbedaan untuk saling baku sayang, saling peduli dan sebagainya. Diantara seluruh perbedaan diantara kita,” kata Dia.

Menurutnya, manusia lahir sebagai umat beragama adalah beban berat. Apalagi setelah membaca kitab maka tujuan akhirnya adalah surga. Namun untuk mencapai pintu surga tentunya ada banyak larangan dan perintah untuk mencapainya.

Lahir sebagai umat keluarga muslim adalah rahmat bagi semesta. bahasa yang terlalu luas. Hewan, tumbuhan yang hidup di atas muka bumi harus menjadi rahmat. Begitupun. Lahir dari keluarga Kristen yang harus saling mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri, termasuk agama-agama lainnya.

“Maka itu adalah beban berat yang tidak mudah hanya menjadikannya maaf memaafkan, itu adalah hal yang terakhir kita lakukan Setelah semua hal-hal yang kita lewati. Artinya kenapa kita minta maaf karena setelah kita berbuat salah. Jadi orang jangan terlalu sering minta maaf dan jangan sering menjadi orang yang bersalah, minta maaf tidak apa-apa tapi jangan sering menjadi orang yang sering meminta maaf. Sebab jika demikian maka kita adalah orang yang selalu dalam posisi minta maaf,” tuturnya.

Maka Berhitu mengajak seluruh masyarakat Maluku di daerah ini untuk berpikir sebelum melakukan sesuatu, berpikir sebelum berucap, berpikir sebelum melakukan tindakan dan sebagainya. Hendaknya menjadi orang Maluku yang bijaksana dan sebelum melakukan sesuatu memikirkan dulu tentang efeknya. Hendaknya warga Maluku menjadi orang yang bijaksana dan berpikir sebelum melakukan sesuatu, Jadilah orang yang rendah hati, tidak sombong dan bisa memaafkan satu sama lain.

“Dan tinggikan toleransi, kendalikan amarah,” pungkasnya.(*)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.