Suku Wate dan Suku Yerisiam Natal bersama di Sima

  • Whatsapp
Foto bersama Wakapolres Nabire, Kompol Ramadhona, Kepala Suku Wate, Alex Raiki, Kepala Suku Yerisiam Ayub Kowoi, Ketua Panitia Sambena Inggeruhi, di Kampung Sima, Distrik Yaur, Senin (27/12/2021). – Bumiofinavandu.

Nabire, Bumiofinavandu – Suku Besar Wate dan dan Suku Besar Yerisiam Gua di Kabupaten Nabire, Papua melaksanakan Natal bersama di Kampung Sima, Distrik Yaur, pada Senin 27 Desember 2021 kemarin.

Natal bersama ini diikuti baik masyarakat Suku Wate dan Suku Yerisiam. Hadir juga Wakapolres Nabire, Kompol Ramadhona, SH, SIK, mewakili Kapolres Nabire, Kapten Infantri Suprasto Mami mewakili Dandim Nabire, Kepala Distrik Yaur Levina Niwari, Kepala CDK Nabire, Kepala Suku Wate, Alek Raiki, Kepala Suku Yerisiam Ayub Kowoi beserta masyarakat kedua Suku dan tamu undangan lainnya.

Bacaan Lainnya
Ketua Panitia Natal Bersama Wate Yerisiam, Sambena Inggeruhi, Selasa (27/12/2021). – Bumiofinavandu.

Pendeta Jefta Tiblola, S.Th dalam khotbahnya menjelaskan, manusia hidup didalam segala macam cara dan situasi yang berakibat dari hilangnya kemuliaan Allah serta damai sejahtera Allah telah rusak dari manusia.

Pendeta Tiblola kemudian memberikan empat contoh damai. Pertama, suku Waye dan Suku Yerisiam hidup bersama dan tidak terpecahkan maka sesungguhnya ada damai di tengah-tengahnya. Karena ada keselarasan dan keseimbangan hidup terhadap satu sama lain. Kedua, ada dua orang atau dua kelompok yang bermusuhan yang ingin berdamai kembali, maka sesungguhnya ada damai di antara keduanya yang berarti sebuah keutuhan hidup. Ketiga, dalam perjalanan hidup seseorang ke suatu tempat, yang tidak mendapatkan kecelakaan, musibah yang terjadi tetapi tiba dengan selamat di tempat tujuan dengan selamat maka sesungguhnya ada damai di sana. Keempat, hasil panen dari kebun masyarakat yang berlimpah adalah sebuah kedamaian bagi mereka yang menggarapnya.

“Maka Natal kedua Suku ini menjadi contoh dan keselarasan bagi yang suku-suku yang lain di Nabire. Sebab sesungguhnya ada damai dan rahmat disini. Maka kristus yang lahir datang untuk membawa keutuhan dan kedamaian bagi manusia ketika menerima-Nya,” jelasnya.

Ketua panitia Natal bersama, Sambena Inggeruhi mengatakan, Natal kedua Suku dilaksanakan sebagai awal kebersamaan. Sebab sejarah membuktikan bahwa kedua suku memiliki histori yang kelam, yaitu kerang suku di masa lampu. Sehingga Natal ini tonggak sejarah kebersamaan di dalam Tuhan maupun kehidupan sehari-hari dari sekarang sampai kapanpun.

“Ini sejarah bahwa kami selalu bersatu dalam berbagai hal dan terutama di dalam Tuhan,” kata Inggeruhi dalam sambutannya.

Inggeruhi menjelaskan, kedua Suku pembakaran lilin Natal oleh dua orang perempuan melambangkan simbol “perempuan pendamai”  perdamaian kedua Suku. Ibadah ini juga membuktikan bahwa sejarah gereja di Nabire datang dari kedua tokoh asal Wate dan Yerisiam yang sudah terlupakan.

Yaitu Tahun 1855 injil masuk di Pulau Mansinam dan 10 Tahun kemudian yaitu Tahun 1866. Terbukti tetua adat kalah itu berangkat ke Pulau Ternate dengan membawa membawa harta kekayaan berupa Damar, Kulit Masohi dan Burung Cendrawasih kepada Raja di Ternate. Dengan tujuan agar ada peradaban yang hasilnya kembali dengan tiga symbol.

“Kembali dari Ternate, tetua adat membawa pistol sebagai simbol pemerintahan, mata uang sebagai simbol perdagangan, mata uang sebagai simbol perdagangan dan lonceng sebagai simbol keagamaan. Dan lonceng itu masih ada di salah satu gereja hingga hari ini. dan saat itu belum ada gereja di Nabire dan gereja pertama masih ada hingga kini di Waharia dengan sebutan gereja Tua ,” jelasnya.

Maka Natal ini dilaksanakan karena dalam Tuhan SukuWate dan Suku Yerisiam dipersatukan di dalam Tuhan. Melalui Tete Inggeruhi dan tete Korneles Warai yang merupakan tokoh Gereja pertama.

Untuk itu Ia mengharapkan agar para pemuda dari kedua Suku dapat bersatu dan berbaur dengan suku-suku lain yang datang dan hidup bersama di Nabire.

“Terima kasih untuk kebersamaan ini hingga terlaksananya ibadah Natal bersama ini. jangan hanya kita bersama karena Natal tetapi dalam segala hal termasuk suku-suku pendatang,” ungkap Inggeruhi.

Kepala Distrik Yaur, Letina Niwari mengatakan, dengan tema Natal bersama yaitu “Kasih Kristus Menggerakan Persaudaraan” dan sub tema “Dengan Natal bersama, BMA Suku Wate dan Suku Yerisiam, kita tingkatkan persatuan di dalam kasih kristus.” Maka itulah tujuan perayaan Natal bersama ini.

“Jadi saya harap bukan saja Natal baru bersatu tetapi Natal harus ada setiap hari di dalam hati dan pergaulan kita masing-masing,” kata Niwari.(*)

[Temukan update berita setiap hari dari https://bumiofinavandu.com dengan bergabung di Grup Telegram “Bumiofinabandu”. caranya klik link https://t.me/Bumiofinavandu  kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Artikel berita juga bisa anda juga bisa mendapatkan melalui akses di Grup Facebook Bumiofi, Grup Facebook HJN dan Halaman Facebook Bumiofinavandu.com.]

Pos terkait

PHP Dev Cloud Hosting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.