JDI diminta tidak benturkan aparat dengan masyarakat adat

Areal yang direncanakan untuk pembangunan pemukiman Kampung Bumiofi. – Bumiofinavandu/Dok Robertino Hanebora.

Nabire, Bumiofinavandu – PT Jati Darma Indah (JDI) yang beroperasi di Nabire, Papua, diminta tidak membenturkan aparat Brimob dengan masyarakat adat pemilik hak Ulayat Suku Besar Yerisiam Gua

hal itu disampaikan Juru Bicara Suku Besar Yerisiam Gua, Sambena Inggeruhi, Senin (13/12/2021).

Bacaan Lainnya

“JDI jangan benturkan Kami dengan aparat Brimob yang memback up perusahaan itu,” ujar Inggeruhi.

Menurutnya, perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) di wilayah Nabire, telah menurunkan anggota Brimob di areal Suku Yerisiam. areal yang terletak antara Kampung Wami dan Kampung Sima ini disencatanan akan dibangun perkampungan baru bagi penduduk Kampung Sima dengan nama Bumiofi.

Namun pada Sabtu (11/12) pekan lalu perusahaan dan anggota Brimob menghentikan pekerjaan dengan mengeluarkan beberapa tembakan.

“Jadi atas nama Suku Besar Yerisiam dan anggota DPRD Nabire, saya minta untuk arogansi anggota Brimob dihentikan,” tuturnya.

Dia menegaskan, masyarakat Suku Yerisiam tidak tahu menahu kapan menyerahkan hutannya kepada perusahaan JDI. maka arogansi semacam ini harus dihentikan mengingat situasi Nabire dalam keadaan aman dan damai.

Maka jangan sampai ulah oknum aparat semacam ini akan memicu konflik investasi antar perusahaan dengan masyarakat setempat.

“Ini penegasan kepada pimpinan JDI untuk menghentikan penggunaan aparat di wilayah tersebut untuk menakut-nakuti masyarakat pemilik hak Ulayat, dengan mengeluarkan tembakan di hutan Wami,” tegas anggota Komisi A, DPRD Nabire itu

Kata Sambena, Suku Yerisiam tidak tahu menahu dengan perusahaan JDI. sebab areal atau lahan yang dibongkar adalah hutan adat milik masyarakat yang hendak digunakan untuk pemukiman.

Sehingga jangan sampai kepentingan investasi kemudian ada oknum-oknum yang ingin merusak suasana damai menjelang hari raya Natal.

Jika HPH ingin bekerja sama dengan masyarakat adat, dipersilahkan untuk mendatangi Suku Yerisiam secara baik-baik dan terhormat.

Bukan dengan cara-cara kekerasan sebab masyarakat adat mempunyai pemimpin yakni kepala suku.

“Datang dan bicara baik-baik agar tidak terkesan kalau investasi ini adalah investasi yang di backup oleh aparat. Perusahaan ini kan bukan baru di Nabire, jadi kalau tindakannya seperti ini maka kami pertanyakan, seakan-akan perusahaan ini tidak tau siapa Suku Yerisiam dan siapa pemilik hak ulayat. jangan buat masalah-masalah baru yang akan panjang urusannya,” pungkas Sambena.

Sebelumnya, aktivitas pembukaan lahan untuk rencana pembangunan kampung Bumiofi di pertengahan Kampung Sima dan Kampung Wami dihentikan. Penghentian dilakukan oleh Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Nabire dengan alasan areal milik perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan (HPH), Jati Darma Indah (JDI).

Hingga berita ini dipublikasikan, redaksi belum mendapatkan konfirmasi dari PT Jati Darma Indah dan Pimpinan aparat Brimob di Nabire yang melakukan pengamanan pada perusahaan tersebut.(*)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *