HUT Noken ke-9, Titus Pekei; Noken lindungi OAP

Penggagas Noken menjadi warisan budaya tak berbenda, Titus Pekei. – Bumiofinavandu/Dok.

Nabire, Bumiofinavandu – Tanggal 4 Desember, ditetapkan sebagai hari Noken sedunia, sebagai warisan tak berbenda sejak Sembilan Tahun 2021 setelah ditetapkan (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco).

Ucapan pun mengalir dari berbagai pihak, baik individu maupun kelompok. Tak ketinggalan, ucapan itu datang dari penggagasnya sendiri ke Unesco, yakni Titus Pekei,SH, M.Si.

Bacaan Lainnya

“Salam satu noken. Noken itu Kita, Kita adalah Noken. Selamat merayakan hari ulang Tahun noken warisan budaya tak benda ke-9 tahun. Noken Warisan Budaya Papua Pada hari ini (04/12/2021), masyarakat Papua tidak merayakan hari warisan budaya tak benda secara pantas,” ujar Titus belum lama ini.

Dari pengalaman Pekey, perayaan hari Noken 4 Desember 2021 tidak semeriah penyelenggaraan PON (Pekan Olahraga Nasional 1-15 Oktober 2021) lalu. Padahal, pengrajin noken dan aksesoris lain mama-mama Papua hadir memeriahkan perhelatan olahraga empat Tahunan itu.

Pertanyaannya! mengapa pada peringatan hari Noken ke-9, Pemerintah pusat dan daerah di seluruh Tanah Papua tidak satupun merayakan bahkan tidak semeriah PON XX PAPUA 2021? Ataukah pemerintah tidak menghargai noken sebagai warisan budaya Papua?.

“Sepertinya tidak ada keberpihakan kepada pengrajin Noken di tujuh wilayah adat Papua Tahun ini,” ucapnya.

Penggagas Noken Papua ke UNESCO itu mohon kepada Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo agar menjelaskan kepada setiap perajin mama-mama noken yang berdiam di Tanah Papua. Mengapa setiap pemerintahan daerah di Tanah Papua membisu ketika Presiden Jokowi ke Papua membeli noken?

Apakah pemerintah tidak memiliki keberpihakan terhadap Noken, untuk memeriahkan hari Noken sebagai warisan kebudayaan dunia? perlu menjelaskan kepada publik. Karena Sabtu ini (4/12), peringatan HUT yang ke-sembilan Tahun. Yayasan Noken Papua sebagai lembaga warisan budaya tak benda di Tanah Papua pun tidak pernah dihargai semestinya.

“Peringatan HUT Noken dalam kesederhanaan ini, bukan akhir dari segalanya. Pakai Noken kita mengusir Corona, karena kita adalah Noken. Kita merayakan hari Noken Papua. Noken, “Membutuhkan Perlindungan Mendesak”, pasal 17 Konvensi 2003. Noken ini saya, saya adalah noken. Saya manusia yang melawan virus korona dengan taat pakai masker noken, karena virus korona menyebar kemana-mana sejak 2019 lalu,” ucapnya.

Menurutnya, tema perayaan disesuaikan dengan kondisi saat ini. Terutama manusia Papua yang harus taat menggunakan masker Noken untuk mengusir covid-19.

UNESCO atau organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB menyatakan Noken sebagai rajutan multifungsi. Karena makna yang terkandung didalamnya adalah noken melindungi masyarakat Papua. Noken sebagai rahim kedua dalam kehidupan sehari-hari. Noken adalah identitas orang asli Papua (OAP).

Dengan identitas OAP bisa melindungi diri dan siap menghadapi perkembangan dunia yang cepat berubah ini. Noken kini sudah dikenal dunia sebagai warisan budaya takbenda dunia khas Papua.

“Presiden Jokowi beli dua Moken dari mama Papua di pinggir jalan. Satu noken kalungkan di leher dan satunya di pundak pada 1 Oktober 2021. Apa pesan filosofis noken, kalau pak Jokowi gantungkan noken di tubuhnya termasuk juga gantungkan semua persoalan yang terjadi di tanah Papua sebagai tanggung jawabnya.Semoga tidak dilihat hanya sebatas cinderamata, tapi bagaimana pengakuan akan kearifan lokal OAP itu penting,” tuturnya.

Lanjut Pekei, nilai, makna, fungsi filosofis Noken dalam pemerintahannya tanpa;

(1) Mengizinkan badan usaha berinvestasi diatas tanah hak ulayat masyarakat adat telah terbukti meniadakan keragaman hayati, kebiasaan hidup rakyat terancam.
(2) Merestui terdegradasinya kearifan lokal, nasional, internasional Noken ketika mulai membabat bahan pohon noken atas nama pemerintah melalui perusahan kelapa sawit, kayu, mineral tabang tanpa mendukung noken warisan budaya Papua;

(3) Perubahan hutan paru-paru bumi di tanah Papua terus berubah secara sadar, sengaja pelanggaran hak asasi manusia pun terus terjadi tanpa solusi damai.
(4) Hutan tropis Papua mesti selamatkan tanpa menjadikan projek pemusnahan kehidupan ekologis Noken kehidupan di tanah Papua.
(5) Manusia berperan utama selamatkan kehidupan dirinya dan alam semesta-Nya tanpa obyekkan manusia Papua dengan tujuan difasilitasi atau sebaliknya untuk menciptakan atau mengundang masalah baru. seperti pemekaran wilayah dari terkecil hingga Provinsi akan dapat menambah beban masalah bagi Tanah Papua.
(6) Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di peta tujuh wilayah adat Papua hanyalah menjadi masalah baru karena sudah ditetapkan dalam konservasi noken warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tanggal 4 Desember 2012.

Teater global kini semua orang menjadi pemain dalam drama kehidupan global yang membuat dunia menciut, jarak mengerut, ruang dan waktu lenyap. Menghadapi teater global yang diperankannya pada masa kini, kita harus melindungi diri kita dengan memakai noken dan menaati protokol kesehatan. Noken dalam daftar yang membutuhkan perlindungan mendesak. Karena sedang dalam kepunahan sehingga terhindar dari virus yang mematikan itu.

“Noken sebagai kearifan lokal masyarakat Papua, hadir untuk melindungi warganya. Noken itu kita, Kita adalah Noken. Salam Noken Membutuhkan Perlindungan Mendesak,” pungkasnya.(*)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.