Kunker Pokja Perempuan MRP, jaring aspirasi mama-mama Dogiyai

  • Whatsapp
Ketua Pokja Perempuan MRP, Ciska Abugau,Minggu (14/11/2021). – Bumiofinavandu.

Dogiyai, Bumiofinavandu –  Majelis Rakyat Papua (MRP) melalui kelompok kerja (Pokja) Perempuan, telah melakukan kunjungan kerja ke empat titik. kunker tersebut diantaranya Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Merauke serta Kabupaten Dogiyai.

Kunjungan kerja itu guna menindaklanjuti dan mengevaluasi dampak dari PON XX Papua terhadap mama-mama Papua di wilayah Meepago.

Bacaan Lainnya

Salah satu kelompok yang berjumlah empat orang ke Dogiyai itu diantaranya Ciska Abugau (ketua Pokja Perempuan), Petronela E. TH. Bunapa (ketua tim), Yuliana Wambrauw (anggota) serta Nehemia Yebikon (anggota).

“Kami ke wilayah Meepago jaring aspirasi dari mama-mama Papua tentang ekonomi mereka,” ujar Ketua Pokja Perempuan MRP, Ciska Abugau. Minggu (14/11/2021).

Menurutnya, tujuan ke Dogiyai adalah guna menemui mama-mama Papua pengrajin Noken khususnya Noken Anggrek. Sebab Noken Anggrek merupakan salah satu yang sangat digemari oleh tamu PON Papua.

“Kami jaring aspirasi dari mama-mama, bagaimana dampak dari PON bagi mereka. Jadi kami cari tau apa kesan dan pesan yang mereka rasakan,” tuturnya.

Sebab didalam kehidupan orang Papua kata Ciska, yang bekerja keras  adalah kaum perempuan. Sebagai tulang punggung untuk menghidupi keluarga, bukan berarti berarti tidak menghargai pria.

Sehingga, aspirasi mama-mama terkendala dengan tempat untuk berjualan. Dan mereka (mama-mama) meminta agar ada tempat yang layak untuk menjajakan dagangannya.

“Artinya, kami sadari bahwa Pemerintah telah menyiapkan tempat bagi mereka. Tapi kebanyakan mama-mama tidak mau berjualan di tempat yang sudah disiapkan. Mereka lebih ingin jualan dekat dengan jalan,” kata Ciska.

Ciska bilang, dampak dari berjualan di pinggir jalan sangat besar, terutama mempengaruhi kesehatan. Misalkan mobil lalu lalang, ada polusi udara, ada debu. Ini akan berpengaruh dan bisa saja mereka (mama-mama) sakit. Imbasnya, tidak ada yang menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Syukur-syukur jika suaminya bisa memasak.

Tim kelompok ini pun menjelaskan dan memberikan pemahaman kepada mama-mama bahwa yang layak untuk berjualan seharusnya tempat yang disiapkan Pemerintah. Maka mereka meminta kepada pemerintah agar menyiapkan tempat yang layak dan bisa dijangkau pembeli agar dagangannya laku.

“Nah, hal-hal seperti ini yang perlu kita jelaskan dan berikan pemahaman yang baik kepada mama-mama,” ungkapnya.

Maka, dalam diskusi tersebut lanjut Ciska, mama-mama memintah kepada Pemerintah untuk menyiapkan satu tempat atau pasar yang layak. Selain itu tempat tersebut harus strategis agar pembeli ramai berkunjung dan membeli dagangannya. Sebab pembeli kebanyakan jarang masuk ke pasar yang letaknya jauh dari jalan raya.

Kemudian hal yang perlu diperhatikan adalah jualan mama-mama Papua adalah jangka pendek dan hasilnya juga habis seketika untuk kebutuhan keluarga.

“Ini yang harus diperhatikan untuk semua pihak. Kita berharap ada jalan keluar yang baik untuk mama-mama Papua,” pungkasnya.

Di sela-sela pertemuan itu, tim kelompok Dogiyai memberikan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi dari Masyarakat Kabupaten Intan Jaya. bantuan tersebut berupa sembilan bahan pokok (sembaku).

Bantuan tersebut dikirim dalam dua flight dari Nabire ke Intan Jaya. satu flight sudah dikirim dan flight kedua senin besok.

“Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada tiga teman yang telah memberikan sumbangan untuk membantu masyarakat di Intan Jaya. Tuhan memberkati kita semua,” pungkasnya.(*)

Pos terkait

PHP Dev Cloud Hosting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.