Siapa yang sering bertindak Rasis di Indonesia

Legislator Papua, John NR Gobai – BumiofiNavandu/Dok John NR Gobai.

Nabire, Bumiofinavandu – Rasialisme adalah suatu paham yang merasa ras diri sendiri merupakan ras yang paling tinggi daripada ras lainnya.

Rasisme ini biasanya dikaitkan dengan paham diskriminasi suku, agama, ras, adat, golongan atau ciri-ciri fisik pada seseorang.

Bacaan Lainnya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rasisme diartikan sebagai rasialisme. Di mana rasialisme adalah prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda.

Berdasarkan ciri fisiknya, manusia di dunia dapat dibagi ke dalam empat ras besar, yakni hitam, putih, kuning, dan merah.

Seorang tokoh bernama Charles Darwin memperkenalkan konsep tentang ras. Darwin memperkenalkan ras sebagai sesuatu hal yang mengacu pada ciri-ciri biologis dan fisik. Satu di antara yang paling jelas adalah warna kulit.

Dalam UU No 40 tahun 2008 disebutkan, tindakan Diskriminasi Ras dan Etnis adalah perbuatan yang berkenaan dengan segala bentuk pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Lalu siapa yang sering rasis?

Dari pengertian diatas, diindonesia sebenarnya siapa yang paling rasis,pernahkah orang Papua menyebut kera atau gorila kepada orang darimana saja diindonesia ataukah orang papua termasuk Natalis Pigai yg bberpa kali disebut  Gorila dan kera, orang hutan,dsb, jadi sesungguhnya orang Papualah yang sering mendapat perlakukan rasisme oleh oknum tertentu di indonesia.

Pernyataaan Pigai melalui akun twiter, bukan menyebut Suku, Agama atau Ras  kepada Pak Ganjar dan Pak Jokowi haruslah dimaknai sebagai bentuk kritikan kepada Pak Jokowi  dan peringatan untuk Pak Ganjar.

Jawa tengah adalah nama Daerah, bukan Suku, agama atau ras.

Maksud Kritik untuk Pak Jokowi adalah agar Pak Jokowi menyelesaikan akar masalah di Papua seperti Pelanggaran HAM termasuk kasus Paniai serta Dialog dengan Orang Papua dan kasus Blok Wabu yang sedang Ramai memunculkan pro dan kontra.

Maksud Peringatan ke Pak Ganjar

Jika dilihat dari tamu yang datang ke Papua, tidak hanya dari Jawa Tengah tapi juga dari provinsi lain, lalu mengapa pak ganjar yg terlihat agresif bertemu berbagai kelompok yang kami duga agendanya sdh disiapkan sebelum beliau datang.

karena diduga beliau juga sedang mulai curi star kampanye untuk jadi Capres  agar jika jadi Presiden harus dapat menyelesaikan akar masalah di Papua.

Akhirnya jangan jadikan istilah rasisme untuk menggalang simpati atau mau menyudutkan orang lain, karena yang sesungguhnya selalu bertindak rasisme bukan orang Papua termasuk Natalis Pigai.

Kami di Papua ini terlalu baik, banyak lahan tanah di Papua yang diklaim oleh negara untuk masyarakat jawa yang menjadi transmigrasi, cukup banyak org jawa yang mengais rejeki di Papua. tanpa sedikitpun kami batasi dibanding orang papua yang keluar Papua untuk belajar  pasti memberikan masukan ke masyarakat lain karena mereka pasti memberikan pendapatan  melalui bayar kos dan makan diwarung warung di luar Papua.

Yang harus diingat oleh Bara Nusa, Pak Jokowi dan Pak Ganjar yang jadi obyek atau korban saja tenang tenang menerima kritik dan peringatan  sebagai bagian dari dinamika demokrasi di indonesia.

Marilah kita bersama memerangi tindak rasisme di indonesia yang tentu bertentangan dengan Sila kedua Pancasila “kemanusiaan yang adil dan beradab”.(*)

(Rilis dari John NR Gobai yang diterima Bumiofi pada Selasa, 05 Oktober 2021)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.