Sejarah misi Fransiskan di Tanah Papua (Bagian 1)

Misiionaris Fransiskan - Dok. penulis

penulis Artikel ini mengulas tentang sejarah masuknya misi Katolik dari Ordo Fratrum Minorum atau Ordo Saudara Dina (OFM)  di Tanah Papua. Biarawan/biarawati yang tergabung dalam ordo yang didirikan Santu Fransiskus Asisi tahun 1209 ini sering disebut Fransiskan.

Ada empat bagian yang diulas dalam artikel ini, yaitu, gambaran singkat ekspedisi di Papua, gambaran sekilas kehadiran misi awal Katolik di Papua, kehadiran Fransiskan di Papua, dan daerah-daerah misi Fransiskan di Papua

Bacaan Lainnya

Gambaran Singkat Ekspedisi di Papua

Kapten Willem Janszoon adalah orang Eropa pertama, yang pada tahun 1606 mengunjungi Papua. Ia sendiri menamakan pulau besar ini dengan sebutan Nieuw Guinea. Ia memberikan nama tersebut karena orang Papua dan penduduk yang ada di Papua, mengingatkannya akan Pantai Guinea di Afrika Barat Daya.

Rupanya alasan kemiripan penduduk setempat di Papua dan di Pantai Guinea Afrika Barat Daya, membuat Kapten Willem Janszoon menamakan Papua dengan sebutan: Nieuw Guinea.

Sejak pertengahan abad ke-17 kadang-kadang ada kapal-kapal lain yang diutus oleh penguasa di Batavia (Jakarta) untuk mengadakan penelitian di Papua. Selain itu, ada beberapa orang Eropa yang tinggal di Ternate dan Ambon (Maluku) yang melakukan perjalanan ke Papua. Namun semua ini tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.

Pada tahun 1826, penguasa tertinggi Hindia Belanda mengirim Kapal Dourga untuk meneliti alam, keadaan penduduk dan kemungkinan berniaga. Tahun yang sama bertolak dua kapal kecil dari Ambon, dua kapal kecil bernama kapal Triton dan Iris, mereka berangkat bersama dengan sejumlah perwira, prajurit, pegawai sipil dan ahli-ahli ilmu alam guna membangun sebuah benteng di suatu teluk indah di sebelah utara pantai Pulau Aiduna (bdk. R. Kuris, SJ, “Sang Jago Tuhan”, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hal. 163).

Baru pada tahun 1884, pemerintah Batavia mencoba melakukan suatu perjalanan ke dalam pedalaman Papua dan mencoba membuat peta-peta tentang Papua. Delapan tahun kemudian seorang Posthouder bersama 10 prajurit ditempatkan di Salezeki, yang letaknya di sebelah barat Kampung Merauke.

Namun mereka tinggal hanya sebentar, kemudian mereka ditarik kembali, karena sikap permusuhan dari rakyat setempat di sekitarnya, membuat suasana di tempat ini sangat mencekam. Sementara itu juga, telah diadakan perjalan-perjalan orientasi menyusuri pantai-pantai Papua bagian Barat (R. Kuris, SJ, “Sang Jago Tuhan” Red, hal. 164).

Sekilas kehadiran misi awal Katolik di Papua

Kehadiran Misi Katolik di Papua dalam tulisan ini mengacu pada Pater Le Cocq d’Armandville, SJ. Waktu Pater Le Cocq d’Armandville, SJ masih berada di Pulau Geser, ia sudah mendengar tentang Pulau Papua. Ia mendengar cerita-cerita itu melalui informasi dari pemerintah Belanda saat itu dan juga dari warga setempat yang ada di Geser. 

Pater Le Cocq d’Armandville, SJ seorang misionaris yang tangguh dan pemberani. Mungkin bisa dikatakan ia mempunyai kemiripan dengan Rasul Paulus sebagai rasul bangsa-bangsa.

Pater Le Cocq d’Armandville, SJ, akhirnya memutuskan untuk melaksanakan misi ke Tanah Papua. Ia berangkat dengan menumpang  kapal laut dari Geser. Pada tanggal 28 Mei 1894 Pater Le Cocq d’Armandville, SJ menginjakkan kaki untuk pertama kali di Tanah Papua, tepatnya di Kampung Sekeru, Fakfak. Setelah sampai di Papua, ia mulai berkontak dengan penduduk setempat. Ternyata Sekeru tidak dapat disebut sebagai kampung (saat itu). Gubuk-gubuk warga berdiri agak jauh satu dengan yang lain.

Pater Le Cocq d’Armandville, SJ, mulai mendaki pegunungan dengan tujuan mencari warga yang tinggal di daerah itu. Pada umumnya daerah itu tidak terlalu terjal untuk didaki, sudah ada jalan-jalan yang dibuat oleh warga setempat.

Perjalanannya ke daerah pegunungan Fakfak tidak membuahkan hasil yang baik. Ia sendiri jarang bertemu dengan warga setempat. Akhirnya pada malam hari, ia memutuskan untuk kembali ke wilayah pantai.

Di situlah ia bertemu dengan beberapa orang yang sedang duduk bercerita. Ia sendiri mulai menggabungkan diri dengan mereka, lalu ia mulai berbicara tentang Tuhan dan karya keselamatan-Nya.

Baru satu hari di Papua, tepatnya di Sekeru, Pater Le Cocq d’Armandville, SJ, sudah membaptis 8 anak, disusul 65 lagi selama 9 hari berikutnya (R. Kuris, SJ, “Sang Jago Tuhan” Red, hal. 170). Selain Kampung Sekeru, Pater Le Cocq d’Armandville, SJ juga berkarya dan tinggal di Bomfia.

Dikisahkan bahwa Pater Le Cocq d’Armandville, SJ meninggal karena tenggelam diterpa ombak besar di Pantai Mimika pada 17 Mei 1896. Pada waktu cuaca di daerah pantai Mimika tidak bersahabat. Namun Pater tetap memaksa diri untuk pergi ke pantai, untuk bertemu warga. Tujuannya ke pantai untuk membayar utangnya kepada warga dan menjemput anak-anak yang akan dibawa ke Kapaur untuk sekolah. Namun di saat seperti ini, situasi berkata lain.

Kehadiran Fransiskan di Papua

Cerita mengenai misi para Fransiskan di daerah yang waktu itu bernama Nederlands Nieuw Guinea, dimulai dengan adanya sepucuk surat pendek yang ditulis oleh Provinsial Misionaris Hati Kudus, Pater Nico Verhoeven, MSC, pada 23 November 1935 kepada Pater Paulus Stein, OFM, Kustos dari Fransiskan Belanda.

Isi surat itu kurang lebih berbunyi:

Mgr. Aerts, MSC, Vikaris Apostolik dari Nederlands Nieuw Guinea, mengusulkan kepada kami supaya mencari sebuah Ordo atau Kongregasi yang bersedia mengambil alih sebagian dari Vikariat yang sangat luas dan sebagiannya belum digarap (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Jayapura: Kustodi Fransiskus Duta Damai Papua, 2012, hal. 3).

Secara jujur dapat dikatakan bahwa Fransiskan (OFM) tidaklah begitu kenal dengan daerah yang ditawarkan itu, tetapi itu pun tidak aneh. Perlu diakui bahwa usaha-usaha pembicaraan antara pihak MSC dan OFM di Belanda tidak membawa hasil yang memuaskan.

Masalah yang cukup berat ialah masalah keuangan ordo. Pada waktu itu situasi Belanda cukup mempengaruhi pendapatan ordo dalam hal keuangan. Selain itu, Fransiskan Belanda juga mempunyai daerah misi di tempat lain. Tempat-tempat itu, antara lain, Cina, Brasilia dan Norwegia. Tempat misi ini membutuhkan biaya hidup yang cukup tinggi. Apalagi ditambah dengan daerah misi baru yakni Nederlands Nieuw Guinea.

Dengan perbincangan yang begitu lama, baik antara pihak OFM Belanda, pihak MSC Belanda dan Propaganda Fidei (Roma). Akhirnya pada tanggal 28 September 1936, Prefek Propaganda Fidei menyerahkan misi baru ini kepada Fransiskan, dan atas kesepakatan bersama antara MSC dan OFM yang kemudian hari menjadi misi yang mandiri dari Fransiskan.

Dua hal penting yang masih harus dilakukan, yaitu harus diadakan kesepakatan antara Vikaris Apostolik Nederlands Nieuw Guinea dan Provinsi Ordo Fratrum Minorum (OFM) Belanda. Selain itu masih harus diselenggarakan pengutusan dan perpisahan secara gerejani.

Kesepakatan itu ditandatangani pada 22 Desember 1936 di Tilburg oleh Minister Provinsial Belanda, Pater Honoratus Caminada, OFM dan Superior Provinsi MSC Belanda Pater Nico Verhoeven, MSC. Yang terakhir ini, menandatangani kesepakatan tersebut atas nama Vikaris Apostolik Nederlands Nieuw Guinea Mgr. Aerts, MSC. Di dalamnya dijelaskan pertama-tama tentang daerah misi yang akan diberikan kepada Fransiskan (bdk. Jan Slot, “Fransiskan Masuk Papua Jilid I”, Red, hal. 12-13).

Perpisahan secara gerejawi para misionaris pertama pada tanggal 29 Desember 1936 di gereja Hartenbrug Leiden. Peristiwa ini merupakan sebuah peristiwa bersejarah dalam pembukaan misi baru di Papua. Perayaan ini dilakukan secara meriah dan disiarkan oleh salah satu radio di Belanda (KRO). Hampir seluruh anggota OFM Belanda hadir dalam peristiwa ini.

Di saat yang sama Pater Provinsial menyerahkan salib misi kepada saudara-saudara yang akan menjadi misionaris di Papua. Setelah perayaan Ekaristi itu selesai, perpisahan pun terjadi, karena keenam misionaris Papua itu langsung berangkat ke Genua dengan kereta api. Sesampai di Genua mereka akan menggunakan kapal laut menuju Papua.

Keenam Misionaris OFM dari Belanda yang ditugaskan di tanah Misi Nieuw Guinea (kini Papua). Mereka berangkat dari Belanda pada tanggal 29 Desember 1936.

Para saudara ini terdiri dari lima orang pastor dan satu orang bruder. Pada tanggal 29 Januari 1937, keenam misionaris ini tiba di Batavia (sekarang Jakarta) Jawa. Perkenalan mereka dengan dunia Hindia – Belanda sangat menakjubkan mereka.

Tulis Sdr. Van Egmon :

"Semuanya menakjubkan, kota, alam, cara hidup orang-orang setempat, sebagaimana saudara-saudara bertingkah laku, singkatnya semuanya itu bagi kami merupakan dunia baru. Waktu di Belanda, sesungguhnya kami tidak mengetahui sedikit pun tentang dunia dengan iklim tropis."

Sebelum ke Papua, perjalanan mereka melalui Makassar dan Ambon, dengan tujuan Tual-Langgur di Kei Kecil (tempat ini adalah pusat Misi Katolik untuk Nieuw Guinea dan Pusat “Missionarii Sacratissimi Cordis” dikenal dengan MSC). Mereka diterima sangat hangat dan ramah di Tual-Langgur.

Dari Tual mereka menyebar. Sdr. Van Egmond dan Sdr. Vugts pergi ke Ternate (Maluku Utara), yang pada awalnya Ternate 6 pusat misi yang baru bagi OFM. Sdr. Moors dan Sdr. Vendrig ditentukan ke Manokwari (Papua Barat). Sedangkan Sdr. Louter dan Sdr. Tettero berangkat ke Kaimana (Papua Barat). Maka pada tanggal 18 Maret 1937, mereka untuk pertama kalinya menginjakan kaki di Nieuw Guinea. Dari Kaimana (Papua Barat), Sdr. Louter dan Sdr. Tettero ke Fakfak (Papua Barat), tepatnya di desa Gewirpe.

Daerah-daerah misi Fransiskan di Papua

Ternate

Pilihan kota Ternate sebagai daerah misi yang baru, tampaknya agak aneh karena Ternate tidak termasuk di dalam pulau Papua. Namun perlu diketahui bahwa Ternate merupakan pusat pemerintahan yang meliputi Papua dan kota perdagangan rempah-rempah.

Baru pada tahun 1936 terjadilah pembagian pemerintah yang baru dan Ternate hanya menjadi tempat kedudukan asisten Residen. Pada waktu itu Papua masuk dalam Residen Ambon. Alasan lain lagi, sebenarnya bisa dipilih Manokwari sebagai pusat misi Fransiskan, namun pada waktu itu Manokwari sudah dikuasai oleh Zending (Protestan). Apalagi pada saat itu, Manokwari belum ada orang Katolik.

Ternate memiliki sejarah yang panjang, baik dalam bidang pemerintahan, maupun kegerejaan. Sudah pada tahun 1518 orang-orang Portugis berusaha memonopoli perdagangan cengkeh di sana. Sehingga pada saat itu, pemerintahan Portugis melakukan perjanjian kerja sama dengan Sultan Ternate.

Nanti pada seratus tahun kemudian barulah Belanda merebut Ternate dari Portugis. Dan Belanda mulai melakukan kerja sama dengan Kesultanan Ternate melalui VOC, dengan tujuan yang sama, yakni menguasai rempah-rempah di daerah tersebut.

Ketika Fransiskan datang pada tahun 1937, umat beriman di Ternate berjumlah 273 orang, yang dibagi sebagai berikut: 100 orang Eropa dan 173 orang pribumi. Paroki itu hanyalah kecil dan umatnya bertempat tinggal terpencar-pencar. Dan mereka tidaklah rajin untuk ke gereja. Bangunan gereja juga pun belum ada. Kedua Fransiskan yang diutus ke sana (Sdr. Van Egmond dan Sdr. Vugts), sesegera mungkin membangun hubungan baik dengan penduduk setempat, namun mereka banyak mengalami kendala dalam bidang bahasa setempat dan bahasa melayu.

Tobelo

Sdr. Vugts berkarya di Tobelo. Ia berkarya di tengah-tengah umat muslim yang keras, hampir-hampir tidak ada kemungkinan untuk membaptis orang untuk menjadi nasrani. Namun pada tahun pertama berkarya di sana, ada 23 orang dewasa yang memberi diri untuk dibaptis.

Karena stasi Tobelo belum memiliki sebuah gedung Gereja, maka pada tahun itu juga mulai direncanakan untuk membangun sebuag bagunan gereja. Gereja baru itu selesai pada tahun 1939 dan diberi nama gereja St. Wilibrodus.

Pada tahun yang sama atas permintaan seorang pengusaha Katolik yang tinggal di sana, pada tahun 1939 dibuka juga pos di Tobelo. Bahkan pengusaha Katolik itu menawarkan perkebunannya untuk secara gratis diambil oleh misi. Sdr. Van Egmond sangat senang dengan tawaran ini. Karena bagi Sdr. Egmond hal ini akan membuat misi Fransiskan menjadi mandiri dalam hal finansial, tidak lagi tergantung pada provinsi di tanah Belanda.

Berita ini disampaikan kepada pimpinan di Belanda, namun tawaran ditolak karena untuk mengurus perkebunan itu, dibutuhkan biaya yang besar dan belum tentu perkebunan itu memberikan hasil yang memuaskan. Apalagi pemimpin berpendapat bahwa menguasai perkebunan tidaklah sesuai dengan keluhuran karya misi.

Alasan lain adalah untuk membuka pos misi Ternate tidaklah terlalu efektif dan baik. Maka alasan ini mendorong Sdr. Vugts untuk berkarya di Tobelo bagian utara dari Ternate. Ketika Sdr. Vugts pergi untuk menetap dan berkarya di Tobelo, datanglah Sdr. Auxilius Giikers menggantikan untuk berkarya di Ternate. Namun perlu diketahui di Tobelo sudah ada Zending yang lebih dulu berkarya di sana, sehingga tidaklah mudah menjalankan misi diantara orang-orang beriman lainnya.

Pengantar Misi di Papua

Keberanian Misionaris Jesuit pun berbuah. Dari Tual Pastor Kuster mengirim Pastor C. van der Heyden SJ untuk berlayar ke Irian Barat (Tanah Papua). Dalam perjalanan ini kapal yang ditumpanginya terbakar di Pelabuhan Skroe, Fakfak. Ia merupakan misionaris pertama yang menetap di Irian Barat selama tiga minggu. 

Misi di Irian Barat dilanjutkan pada tahun 1891 saat pemerintah memberi izin kepada Gereja untuk bekerja di sana. Vikaris Apostolik Batavia mengutus Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville SJ ke Irian Barat. Ia mendarat di pada 22 Mei 1894. Sejak itu, ia lalu mulai merintis sekolah dengan 16 murid.

Sejarah Gereja di Nusantara sampai di suatu titik penting saat Vikariat Apostolik Batavia dipecah menjadi dua wilayah pada 22 Desember 1902. Wilayah sebelah timur Sulawesi dijadikan Prefektur Apostolik Nederland Nieuw Guinea. Karya di wilayah ini kemudian diserahkan imam-imam SJ kepada imam dari Misionaris Hati Kudus (MSC). 

Di Langgur, Pastor Serikat Yesus (SJ) menyerahkan karya kepada imam-imam MSC. Segera setelah itu Misionaris Keluarga Kudus tiba di Merauke dan mendirikan stasi pertama di Irian Barat tahun 1905. 

Kepulauan Kei merupakan kedudukan misi terdekat misi Katolik dan melalui daerah inilah para imam tiba di Papua. Saat itu, Ordo Jesuit sebagai penginjil di New Guinea yang berkedudukan di Kei telah digantikan MSC. Imam-imam dari kelompok ini telah mewartakan ajaran agama Katolik di pesisir selatan Irian Barat selama setengah abad.

Tepat tanggal 12 Januari 1912 Gubernur Jendral Belanda Idenburg memisahkan area misi Katolik dan Zending Protestan. Aturan tersebut menegaskan setiap kelompok hanya boleh menjalankan misinya di wilayah yang telah ditentukan. Ketika pecah perang Dunia I sebanyak 90 orang suku Marind menyatakan dirinya sebagai orang misi. Buah iman semakin terlihat ketika delapan wanita dan tiga anak perempuan ikut dipermandikan untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Irian Barat pada tanggal 7 Juni 1924.

Lima tahun sesudahnya, seorang misionaris Pastor Hermanus Tillemans MSC mulai berkarya di Kokonao, Irian Barat bagian tengah. Ia adalah tokoh sentral dalam pembangunan sejarah Gereja di Irian Barat. 

Lewat tangannya, ekspedisi dan eksplorasi ke pedalaman untuk menanamkan iman Katolik dilakukan dengan merintis sekolah-sekolah di daerah Paniai terjadi. Namun sepak terjang MSC di Pulau Cendrawasih ini pun membutuhkan bantuan. Provinsial MSC kemudian meminta bantuan dari Ordo Fratrum Minorum (OFM). 

Permintaan itu disetujui lewat Kongregasi Propaganda Fide tahun 1936. Pastor Nerius Louter OFM dan Pastor Tetteroo OFM pun menjadi Fransiskan pertama yang menginjak Kaimana, Irian Barat.

Satu sumbangan mutiara imam-imam Saudara Dina di Irian Barat adalah ide untuk membuka isolasi orang-orang pedalaman dengan melakukan penerbangan dengan pesawat ke sana. Ide ini lahir berkat pengalaman Pastor Misael Kammerer OFM. Ia melihat pentingnya sarana transportasi yang memadai guna melayani umat di pedalaman Irian Barat. 

Usaha ini akhirnya menghasilkan maskapai penerbangan pertama di Irian yang dimiliki oleh empat keuskupan, yakni Association Mission Aviation (AMA). Maskapai ini dimulai dengan sebuah pesawat hibah pada tahun 1956.

 Fakfak

Pastor Nerius Louter OFM dan Pastor Tetteroo OFM pun menjadi Fransiskan pertama yang menginjak Kaimana, Irian Barat pada tahun 1937 selanjutnya mereka berdua melanjutkan perjalan ke Fakfak. 

Di Fakfak sejak tahun 1930 Pater De Jong, MSC sudah mendirikan pos misi di sana. Dia adalah pastor pertama di tempat itu secara tetap. Wilayah Fakfak sangat cocok untuk bertempat tinggal. Tanahnya sangat subur. Di sana dalam sebelas desa dengan jumlah keseluruhan penduduk sekitar 2000 orang, giat bekerja bersama dengan guru-guru Katekis dari Kei.

Di wilayah Fakfak ada 764 orang Katolik dan 619 orang katekumen. Semua umat ini, adalah orang-orang yang tidak beriman dan bersedia menjadi nasrani kerana pewartaan Injil. 

Para Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) sangatlah senang dengan kehadiran para Fransiskan. Fakfak mula-mula dilayani oleh Pater Louter, OFM. 

Suatu kendala yang dihadapi oleh misionaris di tempat ini adalah soal bahasa daerah. Orang-orang yang bertobat dan harus dibaptis, mau tidak mau harus mempelajari iman Katolik dengan bahasa, yang mereka sendiri tidak pergunakan atau bukan bahasa daerah mereka. Di sinilah letak kesanggupan dari guru-guru Kei yang membantu para misionaris dalam mengajarkan iman kepada umat setempat.

Babo

Babo terletak pada pantai selatan teluk Bintuni, Papua Barat. Yang istimewa dari Babo adalah bahwa Babo terletak pada suatu dataran pasir, sedangkan alam sekitarnya sampai di kejauhan terdiri dari hutan bakau, yang pada saat air pasang dan surut berubah wajah menjadi laut atau lumpur. Juga dengan kehadiran Fransiskan di Babo ini, maka bertambahnya sekolah-sekolah.

Pada tahun 1937, tibalah Pastor Ph, Tettro OFM menggunakan pesawat terbang di Babo dan terjadi penyerahan tugas dari Pastor Meeuwisse kepada Pastor Ph Tettro OFM. 

Tettro dijuluki Pastor “coba-coba” karena keberaniannya mengambil risiko dalam pelayaran menyeberang Teluk Bintuni menuju Meneboei. Namun, suatu saat tahun 1938 Pastor kehilangan keberanian karena pada saat menyeberang cuaca buruk, hujan lebat dan angin kencang, sehingga dia menulis dalam memorinya “Saya sama sekali kehilangan keberanian saya.”

Pimpinan OFM yaitu, Pastor Van Egmon dan Pastor Louter menumpang kapal milik pemerintah dari Fakfak ke Babo, kesempatan ini dipergunakan untuk berkeliling menggunakan speedboat bantuan perusahaan NNGPM. 

Menuju ke Taniba, lalu ke Mariedi ditempuh dengan berjalan kaki selama 7 jam. Sepatu basah, tubuh penuh lumpur, dan hari sudah gelap tapi masih cukup jauh dari Mariedi, kami mempunyai lentera tapi berjalan kaki melewati hutan yang sulit.

Pada tahun yang sama, 1937 datanglah Pastor Van Leewen, OFM tinggal bersama Pastor Tettero. Pastor Van Leeuwen mengarahkan perhatian pada umat lewat orang-orang Kei dan orang-orang China yang bekerja di perusahaan yang tinggal di sekitar perusahaan NNGPM. Pada waktu itu, wilayah Bintuni (Maniboei) dilayani dari Babo. 

Masih pada tahun 1937 wilayah Papua Barat bagian utara oleh MSC diserahkan kepada OFM. Pada tahun 1953 OSA datang dan bergabung dengan OFM melayani Papua Barat bagian utara Jayapura, Biak, Manokwari, Sorong, Fakfak dan Kaimana.

Dalam pelayananya, Pastor Tettero diserang malaria walau sembuh tapi fisik lemah, sehingga perusahaan NNGPM) menulis surat kepada Pimpinan Ordo (Superior OFM), bahwa, Pastor ini tidak bisa bertahan terhadap keadaan tropis, dan lebih baik kembali ke Belanda. Sekalipun demikian, Pastor Tettero terus berkeliling (tornee), sehingga kampung-kampung mulai nampak berkembang. 

Kampung Mabriema (Fruata) menjadi kampung kesukaan Pastor Teetero. Dia membangun rumah sederhana sebagai pastoran dan mulai mempelajari bahasa daerah.

 Manokwari

Manokwari baru menjadi pos misi tetap ketika MSC mengambil ahli Papua bagian utara. Tidak lama sebelum itu hanya dua kali setahun datang seorang pater mengunjungi Manokwari untuk melayani orang-orang Katolik yang ada di Manokwari. 

Seperti kebanyakan daerah lain, umat Katolik di tempat ini, tinggal terpisah-pisah dan jarak dari yang satu ke yang lain amatlah jauh. Rata-rata umat di tempat ini, adalah para pegawai pemerintah Belanda. Secara resmi Manokwari menjadi tempat pastor yang tetap pada tahun 1935. 

Namun di situ belum rumah yang tetap untuk seorang Pater. Ketika pater Van Egmond, OFM bersama Pater Moors, OFM, tiba di Manokwari mereka pun terkejut. Kerana di Manokwari terdapat sebuah gubuk yang sudah usang.

Di kemudian hari misi menyewa sebidang tanah. Di atas tanah itu didirikan sebuah rumah kecil dari kayu, yang sementara dapat menjadi tempat berteduh. Rumah ini dibangun oleh Br. Bas Vendrig, OFM dengan susah payah, karena pada dasarnya ia bukan seorang yang ahli bangunan. Namun berkat pengalaman ketika di Belanda ia dapat mendirikan rumah itu.

Tampaknya pantai utara ini tidak banyak memberikan hasil yang memuaskan bagi karya misi. Maka pada tahun 1938 Pater Van Egmond, OFM mengadakan perjalanan menyusuri pantai utara dan ia mengunjungi dua kampung di sana (Nubuai dan Membui) pada pantai Waropen. Di sebelah pulau Yapen. Maka di sini ia menugaskan beberapa guru katekis untuk tinggal di kampung-kampung tersebut, dengan tujuan umat dapat mengenal Kristus. Pater Egmond, OFM secara teratur mengunjungi dua kampung tersebut.

Di Manokwari dan sekitarnya (Pantai Ransiki) hanya tinggal sedikit orang Katolik. Menurut data statistik ada 159 orang Katolik Eropa dan 73 Katolik pribumi. Dalam jumlah ini juga orang-orang kolonis di sekitar Hollandia. Tidak ada katekumenat. Karena hal ini dilarang oleh misi Zending. Zending sudah secara kokoh melancarkan pewartaan Injil di daerah ini, maka tidak mengherankan bahwa ini menjadi suatu tantangan tersendiri.

Arso dan daerah sekitarnya

Pada tahun 1938 datanglah Pater Frankenmolen, OFM di Manokwari. Ia mengambil alih perjalanan pelayanan ke Hollandia dari Pater Moors, yang sering sakit-sakitan. Setelah berkarya di Manokwari beberapa bulan, akhirnya Pater Frankenmolen mengadakan kunjungan ke Hollandia. 

Dia datang ke Hollandia untuk melayani pegawai pemerintah, dan beberapa pedagang Cina yang beragama Katolik. Di Hollandia Pater Frankenmolen berteman baik dengan seorang inspektur polisi, dimana dalam pertemuan ini Pater Frankenmolen menyampaikan niatnya untuk melayani orang Papua yang ada di pedalaman.

Atas keyakinan yang diberikan oleh polisi tersebut dan dengan pengalaman beberapa hari di Hollandia, maka pada 1939, pergilan Pater Frankenmolen menuju ke pedalaman Hollandia. Ia akhirnya tiba di kampung Arso. 

Dari Arso ia mulai berjalan kaki empat hari lamanya, akhirnya ia tiba di Skanto. Ia tinggal di Skanto beberapa hari, sebelum akhirnya ia melakukan perjalanan lagi ke Kampung Waris dan Amogotro. Di Arso belum ada apa-apa, tidak ada pos pemerintah, tidak ada orang-orang Zending dan tidak sekolah.

 Mimika

Misionaris Fransiskan baru berkarya di pantai Mimika pada tahun 1952. Kehadiran Fransiskan di situ bukanlah yang pertama, Fransiskan hanya melanjutkan tugas yang sudah dijalankan oleh Missionarii Sacratissimi Cordis (yang dikenal dengan singkatan MSC). Pada tahun ini, ada 39 saudara Fransiskan yang berkarya di Nieuw – Guinea. Mereka terdiri dari 33 orang Pater dan 6 orang Bruder.

Di Mimika ditempatkan tiga orang Pater Fransiskan. Pater Julianus Coenen, OFM yang memperoleh wilayah kerja di bagian timur dan tinggal seorang diri di Atuka. Bagian barat Mimika dipercayakan kepada Pater Rombout, OFM, sedangkan di pusat Kokonao dipercayakan kepada Pater Marcellus Stevens, OFM. Di Kokonao ini menjadi pusat paroki.

Pada akhir tahun 1953 datang lima orang suster dari Kongregasi Heerlen (Belanda), untuk membantu karya pastoral di sana. Mereka lebih khusus berkarya pada rumah sakit dan asrama putri yang ada di situ. Pada waktu itu, di Mimika sudah ada 102 sekolah, tiga per empat dari sekolah-sekolah ini mendapat subsidi dari Pemerintah. Sekolah-sekolah ini mempunya guru sebanyak 130 guru dan murid sebanyak 3.500 orang.(*) Bersambung.… 

Penulis: Sdr. Vredigando E. Namsa, OFM, Biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua. Tinggal di Papua

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. With havin so much content do you ever run into any problems of
    plagorism or copyright violation? My site has a lot of exclusive content
    I’ve either written myself or outsourced but it looks like a lot of
    it is popping it up all over the internet without
    my agreement. Do you know any techniques to help prevent content from being stolen?
    I’d really appreciate it.

    my blog: vpn special code