Sejarah misi Fransiskan di Tanah Papua (Bagian 2)

Fransiskan Papua - Dok. Penulis

Dari Timika beberapa saudara antara lain, Pater Misael Kammerer, OFM mulai mengadakan suatu ekspedisi ke daerah pegunungan. Ia dikenal sebagai orang yang tangguh mendaki gunung dan kuat berjalan dalam medan apapun. 

Ia juga salah satu saudara yang berusaha mengadakan perjalanan ke Lembah Baliem, tetapi gagal untuk mencapai lembah agung itu. Beberapa tahun kemudian barulah Lembah Agung ditaklukan oleh misi Fransiskan.

Bacaan Lainnya

Akibat Perang Dunia II dan martir pertama Fransiskan di Papua

Jepang yang telah berabad-abad menutup diri pada dunia, pada 1953 dipaksa oleh Amerika untuk membuka diri bagi pengaruh Barat yang cukup mempengaruhi seperempat belahan dunia ini. Dengan keadaan seperti ini Jepang menjadi sadar, bahwa dirinya tertinggal dan dalam waktu yang singkat, Jepang mulai gencar melaksanakan agresinya.

Pada 1905 pasukan angkatan laut Rusia dikalahkan telak oleh Jepang dalam suatu pertempuran. Jepang bersekutu dengan Inggris, maka tidak heran sebagian wilayah Cina menjadi daerah jajahan Jepang. 

Jepang sudah memaksa untuk menempatkan pasukan perangnya di Indocina. Untuk memperkecil bahaya, Amerika mulai berusaha untuk mencegah maksud Jepang menguasai Indocina.  

Jepang mengetahui hal itu, sehingga pada 28 Desember 1941, Pearl Harbour diluluhlantakkan oleh serangan Jepang yang datang tiba-tiba tanpa diketahui oleh Amerika. 

Pada 12 Januari 1942, Jepang mendarat di Hindia Belanda dan pada saat yang sama Jepang dengan tegas mengumumkan pernyataan perang melawan Belanda. Serangan Jepang berlangsung sangat cepat. Pada 10 Januari 1942, Jepang mendarat di Minahasa (Sulawesi Utara) dan Tarakan (Timur laut Kalimantan). 

Pada 23 Januari menyusul pendaratan di Balikpapan (Kalimantan Timur) dan pada 30 Januari Jepang mendarat di Ambon.  Pendudukan Nieuw Guinea tidaklah begitu diutamakan, yang terpenting hanyalah instansi minyak di Babo (Papua Barat), tetapi pada kenyataannya instansi ini sudah dirusakkan oleh KNIL sebelum Jepang mendarat pada 1 April, sedangkan Fakfak baru dikuasai pada 2 April.  

Pada saat yang sama Kontrolir Victor de Bruyn melarikan diri bersama kolega kerjanya dan ditolong oleh orang-orang Papua, mereka melarikan diri lebih jauh ke pedalaman Papua. Mereka ini bertahan sampai pada 1944. Di kemudian hari mereka diungsikan ke Australia.

Hal yang sama dialami oleh para misionaris Katolik yang berkarya di Papua. Banyak dari mereka (para misionaris Katolik) yang ditangkap dan dipenjarakan di beberapa tempat di Indonesia. Sampai-sampai pada 16 April 1942, Sdr. Auxilius Guikers, OFM dibunuh oleh tentara Jepang. 

Semenjak datang ke tanah misi, Pater Guikers menjadi pastor di Ternate. Namun akhirnya ia dipindahkan ke Manokwari, dengan perintah untuk menyelenggarakan karya misi Katolik di sekitar danau-danau Wisel. 

Pada saat itu, Mgr. Yohanes Aerts (yang juga menjadi korban pembunuhan oleh tentara Jepang di Tual) telah mendesak supaya para misionaris harus mulai berkarya di daerah itu. Yang mana, daerah di sekitar danau-danau Wisel telah dibuka oleh Pater Tillemans, MSC (kemudian hari menjadi Uskup Merauke yang pertama) dan di situ ada beberapa guru yang sudah bekerja.

Pada saat Pater Guikers, OFM tiba di Manokwari, sesungguhnya ia sudah berjalan kaki dari daerah sebelah utara Papua ke danau-danau Wisel dan dari sana ia berjalan kaki kembali.  Namun karena situasi perang yang terjadi, perjalanan itu tidak membuahkan manfaat untuk adanya suatu tindakan lanjut. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa situasi perang ikut mempengaruhi karya misi Katolik di Papua. Kehadiran Jepang membawa warna baru bagi kehadiran Misi Katolik.

Pada 24 April tibalah Sdr. Nicasius Flaat, OFM dari Ternate dan Sdr. Nerius Louter, OFM dan Sdr. Adelphus van Leeuwen dari Fakfak.  Tanggal 2 Mei datang juga Sdr. Fulco Vugts, sedangkan Sdr. Auxilius Guikers, OFM ditangkap di dalam rumah persembunyiannya oleh tentara Jepang. Ia ditangkap pada 16 April 1942. 

Menurut cerita, ia ditangkap karena terjadi pengkhianatan. Guikers, OFM dituduh telah merusak pangkalan perusahan Jepang di Manokwari.

Dikisahkan sebagai berikut: 

“Sdr. Guikers, OFM ditangkap lalu dibawa ke Moni untuk diadili di sana, dia dituduh sebagaimana telah disampaikan di atas. Dia sendiri saat itu masih menggunakan jubah Fransiskan. 

Mula-mula dia sebelum dieksekusi mati oleh tentara Jepang, Sdr. Guikers disuruh menggali lubang pemakamannya sendiri. Hal ini terjadi di Pantai Moni, Ransiki.  

Sebelum dieksekusi ia meminta waktu untuk berdoa. Permintaannya itu dikabulkan, tetapi ketika dia masih berdoa, dia ditikam dengan dua pedang dari sebelah kiri tembus sebelah kanan. Pedang yang satu ditikam pada leher dari sebelah kiri tembus ke sebelah kanan. Akhirnya jenazahnya ditendang masuk ke dalam lubang yang sudah digali itu. Lubang kubur itu ditimbun dengan pasir.  

Sesudah itu tentara Jepang pun pergi. Karena lubang kuburan itu begitu dangkal, beberapa orang muda pengikutnya mengumpulkan batu-batu di atasnya, untuk menghindari bahwa lubang itu terbuka kembali bila air pasang naik.”

Sdr. Auxilius Guikers, OFM, meninggal di Ransiki, pada 16 April 1942 dalam usia 31 tahun, yang menjadi Fransiskan selama 11 tahun dan sebagai imam hanya berlangsung 5 tahun.  Ia datang Nieuw Guinea (Papua) pada Desember 1937. Dia berkarya di Papua (Fakfak dan Manokwari) selama 4 tahun 4 bulan. Ia mulai berkarya sebagai pastor Fransiskan di Fakfak selama satu tahun. Kemudian ia pindah ke Manokwari.

Kepala Burung (daerah pedalaman)

Di dekat Sausapor. Di sebelah timur laut Sorong, tinggallah Wilem Japen, ayahnya berasal dari Biak. Sebelum Perang Dunia II berlangsung, ia sudah berkenalan dengan Pater Frankenmolen, OFM di Manokwari dan sebagai pembantu rumah dia mengikutinya ke Belanda. Di sana ia menjadi Katolik. 

Setelah perang ia kembali ke kampung kelahirannya di Werur, beberapa jam perjalanan dari Sausapor. 

Melalui dia dan melalui murid-muridnya di Sorong terjadilah kontak antara pihak misi dengan daerah itu. Untuk mengenal lebih jauh pada tahun 1948 salah seorang pastor OFM mengunjungi daerah itu. Dari sana ia mulai masuk ke pedalaman Sorong.

Akan tetapi, waktu yang sama pimpinan di Hollandia menyampaikan berita bahwa di sekitar danau-danau Ayamaru, di pusat Kepala Burung, berdiam begitu banyak orang yang belum mempunyai kontak dengan misi katolik ataupun Zending. 

Kelihatannya ini sebuah peluang misi yang menjanjikan dan karena itu Pater Cremers memberi tugas kepada Pater Rombouts untuk pergi ke Sorong. 

Dari sana ia mendirikan pos misi pada danau-danau Ayamaru itu. Pater Rombouts ditemani dengan seorang guru katekis dari Kei bernama Matias Teniwut. Namun ia gagal tinggal di pesisir pantai Sorong karena dihadang oleh Zending yang lebih dulu berkarya di situ.

Ketika gagal mendirikan pos misi di Sorong Pater Rombouts kembali ke Sausapor dan dari situ ia berusaha untuk berjalan menuju wilayah pedalaman Kepala Burung bagian tengah, tepatnya di Aifat dan Karoon. 

Di sana ia bersama beberapa guru berhasil mendirikan sekolah-sekolah. Yang menjadi kesulitan adalah kurangnya tenaga guru untuk mengajar di sekolah-sekolah yang sudah di buka itu.

Pada Juli 1950, Pater Rombouts dalam keadaan sakit kembali melakukan perjalanan yang lebih jauh ke pedalaman Kepala Burung

Namun karena sakit dokter pun melarangnya untuk melakukan perjalanan itu. Akhir 1950 Pater Rombuts kembali ke Teminabuan untuk memulihkan kesehatannya. Ia diganti oleh Pater Mous yang menjadi pastor di sana.

Masuk ke daerah pegunungan (kontak pertama dengan orang di Danau Wisel)

Daerah pegunungan di atas pantai Mimika, pada pertengahan abad 20 menjadi perhatian banyak antropolog yang melakukan ekspedisi ilmu alam. Pada 26 Desember 1936 Pater Tillemans, MSC bersama rombongan dari dr. Buljmer melakukan perjalanan ke pegunungan di atas Mimika dan mereka tiba di Modio, salah satu pusat penduduk pegunungan. Di sinilah tempat tinggal kepala suku besar yaitu Auki Tekege.

Danau Wisel ditemukan oleh oleh pilot bernama Wissel pada tahun 1937. Pada 11 November 1937 mendaratlah pesawat terbang pertama pada danau terbesar dari tiga danau itu, yakni Danau Paniai. 

Oleh karena itu, berkat informasi yang didapatkan dari sang pilot tersebut, maka mulai diadakan suatu ekspedisi besar-besaran yang melibatkan berbagai pihak, termasuk juga Pater Tillemans, MSC.

Mengingat perkembangan yang terjadi di danau-danau Wisel ini, para Fransiskan yang berkarya di sebelah utara Papua, tentu akan mengambil ahli di daerah tersebut. Hal ini berarti, bahwa perluasan misi yang dijalankan oleh Fransiskan akan semakin luas. Maka dibuat serah terima wilayah baru dari tangan MSC kepada OFM. Hal ini diputuskan oleh Mgr. Grent. 

Saat itu Fransiskan mulai mengambil alih wilayah pada danau-danau Wisel. Hal ini terjadi pada Oktober 1948. Dan kenyataan semakin bertambah, bahwa Fransiskan terus meluaskan wilayah kerjanya bukan hanya pada daerah sekitar danau-danau Wisel, melainkan sampaikan ke wilayah Puncak Jaya.

Tanpa disangka-sangka pada 3 Maret 1950 bertambah kontingen misionaris di daerah tersebut dengan tibanya Pater Lantantius Nouwen, OFM. Pada tahun yang sama tiba enam guru berijazah yang datang dari Kei, bersama dua orang pemuda Hindia. 

Seorang dari mereka diangkat menjadi katekis, dan yang lainnya bekerja sebagai guru dan rangkap mengerjakan kebun yang ditinggalkan oleh Pater Steltenpool di Enarotali.

Sementara itu Pater Leo Boerma sangat sibuk menuliskan bahasa Ekari yang sampai saat ini hanya terdapat dalam bahasa lisan, sehingga untuk selanjutnya para misionaris dapat mengajar orang dalam bahasa mereka sendiri. 

Pater Noiwen berusaha menangkap bahasa itu sebanyak mungkin. Pada hari terakhir bulan Mei 1950 Pater Tillemans berpisah dengan masyarakat di danau-danau Wisel, lalu berangkat berjalan kaki ke Mimika. Dua belas tahun yang lalu [1972] ia datang ke situ. Setelah beberapa minggu, disiarkan berita bahwa beliau diangkat menjadi Vikaris apostolik pertama Merauke.

Pada Februari 1952 datanglah Pater Engelbert Smits dan ia orang pertama yang tinggal di Modio. Di sini dia dibantu oleh kepala suku Auki. 

Bersama dengan pater Steltenpool mereka berdua mulai menjelajahi daerah sekitarnya. Sesudah beberapa minggu akhirnya Patern Steltenpool kembali ke Ugapa. 

Ketika pada tahun yang sama dua sekolah pertama di buka, maka datanglah dua katekis dari Timika dan mulai mengajar di situ.

Misi ke Lembah Baliem

Upaya Misionaris Katolik (OFM) untuk melakukan suatu Misi ke daerah Lembah Baliem, mengalami berbagai kegagalan. Mulai dari Sdr. Misael Kammerer (Sdr. ini dikenal sebagai seorang yang tangguh menjelajahi daerah pegunungan Papua) yang melakukan perjalan ke Lembah Baliem via Ilaga (sekarang Kabupaten Puncak) bersama dengan orang-orang yang bersedia mengantarnya pada perjalanan itu. 

Saudara Misael ditemani oleh seorang guru. Dia adalah Mozes Kilangin (Putra Amungme). Dengan setia sang guru ini, bersedia mengantar Sdr. Misael dalam Misi tersebut. 

Perjalanan ini pada kenyataannya tidak sampai pada tujuan yang dituju. Mereka hanya sampai pada wilayah Baliem barat. 

Mereka tinggal di wilayah Baliem barat (sekarang dikenal dengan Kabupaten Lani Jaya dan Kabupaten Tolikara) kurang lebih 6 hari, mulai dari tanggal 9 sampai 14 Maret 1954 sebelum mereka melakukan perjalan pulang.

Akhirnya pada 19 Januari 1958 Sdr. Audifax Arie Blokdijk pergi ke Wamena untuk orientasi selama dua hari (19-21 Januari 1958) dan untuk mempersiapkan pembukaan pos pertama Gereja Katolik di Baliem. 

Saudara Ari Blokdijk pergi ke Lembah Baliem (Wamena, Kabupaten Jayawijaya) menumpangi sebuah pesawat Norsemen dari Sepic Airways Company, Papua New Guinea. 

Tanggal ini, 19 Januari, diabadikan sebagai tanggal mulainya Misi Katolik di Lembah Baliem. Setelah menyelesaikan orientasi tersebut, Sdr. Ari Blokdijk kembali ke Hollandia (Jayapura) untuk mempersiapkan segala hal untuk Misi tersebut.

Pada tanggal 5 Februari 1958, Uskup Manfred Staverman dan Sdr. Arie Blokdijk bersama dua orang dari Waris, Anton Amo dan Dionisius Lenk Maunda, tiba di Wamena dan mereka mulai mendirikan pos Gereja Katolik yang pertama di Lembah Baliem, yaitu di Wamena, tepatnya di Wesagima atau Wesaima, dekat Kali Wesek.

Misi di Amungme

Pada saat pengangkatan di Sugapa, Pater Kammere mendapatkan tugas di samping sebagai pastor, ia juga bertugas untuk menyelidiki wilayah ke sebelah timur lagi. Waktu itu hanya ada berita burung perihal suku-suku yang tinggal di sana. 

Sugapa sendiri adalah tempat tinggal dari sekitar 500 orang Moni, yang berbatasan langsung dengan orang-orang Ekari. Diharapkan bahwa mereka akan memberi bantuan untuk mengadakan kontak dengan orang-orang Moni lain yang tinggal lebih jauh ke arah timur dan dari situ masih dengan suku-suku yang lain. 

Maka pada bulan terakhir pada tahun 1951, P. Misael melakukan perjalanan ke masyarakat Ugundini, sekelompok penduduk yang terutama menempati wilayah sebelah selatan Puncak Cartenz sebagai tempat mereka tinggal. Orang-orang ini menamakan diri Amungme.

Sekian lama bekerja di sana. Dibantu oleh guru Mozes Kilangin dan bersama guru-guru katekis yang lain. Kelihatannya agama Kristen mulai berakar di daerah tersebut. Maka pada tahun 1960, Pater Jan Koot, OFM yang datang menggantikan Pater Jorna, memutuskan untuk menyelenggarakan pesta permandian. Maka pada malam paskah dia mempermandikan 167 orang. 

Dari peristiwa ini, lalu dapat dimengerti juga bahwa penduduk bereaksi dan antusias ketika Gereja mulai melaksanakan karyanya di antara mereka.

Misi di Pegunungan Bintang

Baru pada akhir tahun 1950-an diadakan ekspedisi dari sebelah selatan menerobos masuk ke wilayah Pegunungan Bintang. Memang pada waktu Perang Dunia II berlangsung telah dibuat penerbangan pengenalan untuk mengambil foto-foto di daerah itu, dan telah mendapat hasil yang baik tentang letak dari Pegunungan Bintang yang terjal. Ekspedisi menjadi cikal bakal pembukaan pos misi di daerah Pegunungan Bintang.

Seusai ekspedisi itu, pada 14 September 1959, Brongersma pemimpin ekspedisi, setelah ekspedisi ia sendiri berkunjung ke Hollandia (kini Jayapura). Setelah berkunjung di Hollandia akhirnya ia kembali ke Oksibil, untuk menyelesaikan beberapa hal terkait dengan ekspedisi yang sudah ia buat bersama timnya. 

Dalam rombongan itu terdapat Jan van de Pavert, OFM.  Pater Jan tinggal di Kiwirok dan di sana ia membuka poliklinik sederhana. Sedangkan Pater Mous menjadi pastor di wilayah Oksibil. 

Pada awal tahun 1960-an mata Pater Mous mulai sakit dan ia harus pergi ke Rabaul untuk perobatan. Selama masa itu Pater Van de Pavert menggantikannya. Dia mulai membangun sebuah bangunan untuk pastoran di tempat ini, namun kenyataan ia bukan seorang tukang. 

Maka dalam bulan yang sama datang Br. Gabriel Roes, OFM (ahli bangunan) menolong Pater Mos membangun bangunan pastorannya.

Pada 25 Juli Pater Mos membuka sekolah di Mabilabol dengan 43 murid. Sementara itu ia juga mengadakan perjalanan ke lembah Bi-Baab. Ketika pulang dari sana ia mampir di Ok Tsop dan mendapatkan bahwa wilayah itu jauh lebih padat penduduknya daripada diperkirakan semula. 

Pada perjalanannya dalam bulan November tahan yang sama, sampailah ia di Kiwirok dan menempatkan seorang katekis di sana. Pada Januari 1961 tibalah guru berijazah dan bersubsidi yang pertama di Mabilabol, untuk kemudian akan menetap di Abmisibil.

Menjelang akhir tahun 1961 diputuskan untuk meninggalkan Kiwirok. Pada bulan Maret 1962 Pater Mous membuka sekolah di Iwur dan sekitar pertengahan 1962 Pater Hylkema mendapatkan bantuan dari 4 orang yang bersedia membantunya dalam menjalankan proyek pembangunan lapangan terbang di sana. Dalam tahun 1963 akhirnya lapangan terbang itu selesai.

Pilot-Pilot Fransiskan di Papua

Di samping permasalahan helikopter atau pesawat terbang, yang pada waktu sangat mendukung kelancaran misi. Ada juga pertanyaan dari mana dapat diperoleh pilot-pilot. Akhirnya oleh para Fransiskan diputuskan untuk mendidik Saudara-Saudara Fransiskan sendiri menjadi pilot. 

Dari enam calon yang ditentukan oleh Dewan Pimpinan Persaudaraan OFM, terpilih tiga orang untuk mengikuti pendidikan pilot. Saudara-saudara yang terpilih itu adalah Sdr. Frans Verheijen, OFM, Sdr. Henk Vergouwen, OFM dan Sdr. Karel Hermans, OFM. 

Pendidikan menjadi pilot itu ditempuh di Belanda dan Amerika. Mereka dinyatakan lulus sebagai pilot pada Oktober 1957.

Sementara itu juga sudah diambil keputusan perihal pesawat mana yang akan diterbangkan. Maka dipilihlah pesawat Cessna 180. Pada tahun 1957 pesawat-pesawat mulai dipesan. 

Setelah tiba di Papua, pesawat-pesawat itu diberkati oleh Mgr. Staverman, OFM pada 23 Maret 1959. Tanggal ini menjadi tanggal resmi mulainya penerbangan misi di Papua. 

Pada mula misi ini terasa susah. Misalnya sesudah setiap 25 jam terbang, pesawat terbang itu harus diterbangkan ke Wewak (PNG) untuk pemeliharan teknis, yang belum dapat dilakukan di Hollandia (sekarang dikenal dengan Jayapura). Tetapi yang terpenting yaitu penerbangan sudah dimulai.

Pada bulan Juni 1959 tiba sdr. Frans Verheijen, OFM di Hollandia, dengan sebuah CPL dan selembar lisensi mekanik di tangan. Maka pada bulan September pada tahun yang sama sebuah hanggar dibuka di Hollandia. Dengan demikian perusahan penerbangan dapat berjalan. 

Pertama-tama Wamena dan Oksibil. Kemudian menyusul Kepala Burung dan pada bulan September di Paniai siaplah strip landasan yang pertama di Epouto. Peristiwa ini menjadi peristiwa besar dalam sejarah penerbangan misi Fransiskan di Papua.

Perubahan Politik

Ketegangan yang berkembang antara Indonesia dan Belanda sejak penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, terutama berkisar tentang masalah Papua. Pertentangan itu pada permulaan tahun 1960-an mengarah ke perang yang sesungguhnya. Karena desakan politik dari luar, hal ini dapat dihindarkan dan Belanda harus melepaskan bagian terakhir dari apa yang dulu disebut “Hindia Timur”. 

Hal ini bagi misi Fransiskan juga menimbulkan akibat-akibat yang besar. Di samping itu, pada waktu itu juga ada perubahan-perubahan gerejawi yang besar yang disebabkan oleh KV II.

Kendati adanya semua usaha dari pihak Belanda pada front diplomatik dan kendati telah digelar pasukan, sejak permulaan tahun-tahun 1960-an sudah jelas, bahwa Belanda lama-kelamaan tidak bisa mempertahankan lagi klaimnya atas Papua ini. Juga gereja Hervormd Belanda campur tangan dalam menyelesaikan persoalan ini melalui keputusan-keputusan Sinode. 

Berbagai usaha telah dijalankan dari pihak atau bersama Zending demi diadakannya pembicaraan antara Belanda dan Indonesia, diuraikan panjang lebar dalam pertemuan KDH.

Sejauh diketahui, para Uskup Belanda tidak mencampuri urusan politik tersebut, sebagaimana telah mereka perbuat juga dalam kaitan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tetapi perihal masalah Papua ini, telah terjadi korespondensi antara Episkopat Belanda dan Episkopat di Indonesia. 

Ketika sengketa itu mulai melibatkan senjata, pada tahun 1962 Episkopat Belanda telah mengirim telegram, baik kepada pemerintah Belanda, maupun pemerintah Indonesia, dengan seruan, supaya dengan segala kemauan, baik berusaha menuju kepada pemecahan damai atas perselisihan tentang persoalan Papua, dengan jalan mengadakan pembicaraan secara terbuka dan penuh kepercayaan antara semua yang terlibat.

Juga pihak Fransiskan Belanda di Jawa telah berusaha melakukan kontak dengan pemerintah Indonesia berkaitan persoalan Papua. Pemimpin Fransiskan Jawa, Pater Bernulf S., OFM mengirim sepucuk surat kepada sesama saudaranya, dengan permintaan, agar setiap saudara bisa mengalami peristiwa dengan tenang. 

Kendati pendapat-pendapat yang ada di Papua saat itu sangat kuat memihak pada diteruskannya hubungan yang ada dengan pemerintah Belanda, namun sudah terdengar juga bahwa orang-orang yang berjuang demi tujuan hubungan yang lebih baik dengan pihak Indonesia, atau bahkan bergabung dengan RI.

Dalam bidang pendidikan, perubahan itu langsung kelihatan. Dengan sendirinya kurikulum Indonesia diterapkan di semua sekolah yang ada di Papua. 

Selanjutnya dalam bidang pendidikan Sekolah Rakyat hilangnya perbedaan antara pendidikan kota dan pendidikan desa. Tugas pengajar Belanda diambil alih, terutama oleh tenaga-tenaga pengajar dari Jawa. 

Namun semua maksud ini tidak mudah dijalankan. Bagi misi dan zending pedalaman sudah sulit sekali untuk menarik anak-anak datang untuk bersekolah selama tiga tahun, apalagi untuk enam tahun. Anak Papua dan orang tua dari anak-anak ini seringkali kurang berminat dengan aturan baru ini. 

Sebagai mahkota dari sistem pendidikan yang baru itu, Papua memperoleh universitasnya dengan nama Uncen (Universitas Cenderawasih) di Abepura mula-mula, namun berkembang sampai gunung di P 3.

Pimpinan OFM di Tanah Papua dari Tahun 1937 – Sekarang

Superior Regularis I: Saturninus van Egmond  1937 – 1945

Superior Regularis II (pjs)    : Nerius Louter            : 1945 – 1947

Superior Regularis III        : Oscar Cremers            : 1947 – 1950

Superior Regularis IV        : Claudius van deWestelaken        : 1950 -1954

Superior Regularis V        : Manfred Staverman            : 1954 -1956

Superior Regularis VI        : Eelco Bruinsma            : 1956 -1964

Superior Regularis VII    : Dirk Lunter                : 1964 -1967

Superior Regularis VIII    : Koos Houdijk            : 1967 -1971

Superior Regularis IX        : Frans van Maanen            : 1971 – 1977

Superior Regularis X        : Jos Donkers                : 1977 -1983

Superior  Regularis XI    : Jan Koot                : 1983 -1987

Sejak 21 September 2008 menjadi Custodia lndependens

Kustos I    :   Gabriel Ngga    2008-2011

Kustos II    :   Gabriel Ngga    2011-2014

Kustos Ill    :   Wilhelmus I. G. Saur    2014-2017

Sejak 14 September 2017 menjadi Provinsi

Minister Provinsial I  : Gabriel Ngga.  []

Penulis: Sdr. Vredigando E. Namsa, OFM. Biarawan Fransiskan Provinsi Fransiskus Duta Damai Papua. Tinggal di Papua

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *