Bangunan mungil itu sudah ditempati, Mahasiswa Damal di asrama III tidak lagi kebanjiran

  • Whatsapp
Bangunan baru yang baru saja rampung dikerjakan beberapa Kominitas– Bumiofinavandu.

Nabire, Bumiofinavandu – Kabar tentang situasi terkini di asrama Damal III Nabire hanya diketahui di beberapa dindi akun faceboo beberapa teman serta media yang sudah memberitakan.

Sebab sejak lama mudai awal perencanaan hingga memasuki proses pekerjaan, sebagai orang yang pernah menulis kisah penghuni asrama ini, saya mulai jarang berkumpul bersama teman-teman komunitas. Hal ini lantaran larut dengan beberapa kesibukan.

Bacaan Lainnya

Namun akhirnya, di awal Bulan Agustus 2021 ini, saya kembali tergugah hati setelah melihat postingan salah satu pertemanan di facebook, Moos Tiku Pasang nama akunnya. Moos atau Amoos Tiku Pasang adalah salah satu pendidik di SMP N I Nabire.

Guru Amoos, sapaanku kepada Pak Amoos telah memposting sebuah narasi dan memperlihatkan seorang bocah bersamanya di Sekolah. Amoos mengisahkan bahwa anak yangkemudian diketahui namanya adalah Enus itu adalah salah satu calom murik yang hendak mendaftarkan ulang di sekolah tersebut.

Ia (Enus) baru saja lulus dari SS Negeri Karang Mulia Nabire. Kemungkinan sesuai postingan PakAmoos, bahwa Enus sedang kembali mendaftar ulang di sekolah itu.

Singkat cerita, sayapun tiba di asrama yang terletak di jalan Unjung Panjang Keluhara Karang Mulia, Distrik Nabire, Nabire-Papua itu pada 18 Agustus lalu disambut beberapa anak asrama termasuk Enus.

Sore itu, sebagian anak-anak asrama asal Kabupaten Puncak tersebut sedang asyik bermain voli. Sebagian anak menonton dan ada juga yang nongkrong di sekitar lapangan, itulah kesibukan mereka (anak-anak asrama).

Terlihat juga, satu bangunan baru dari kayu berwarna dinding hijau dominan dengan tiang-tiang bercat kuning.

Ini merupakan bangunan baru yang dihuni 30 pelajar dan mahasiswa Damal asal Kabupaten Puncak. Karena saat ini mereka sedang studi di Nabire untuk mengejar cita-cita mereka.

Menentara di samping lapangan voli, terlihat puing-puing bekas bangunan lama yang telah dibongkar karena usang. 

“Kami sudah pindah ke bangunan yang ini,” kata Iyau Newegalen, penghuni asrama sambil menunjuk bangunan baru itu.

Kamipun kemudian bercakap tentang perjuangan panjang anak-anak asrama untuk mendapatkan bangunan baru. Sungguh perjuangan yang tidak semestinya mereka lakukan. Namun apa boleh di kata, keadaan harus memaksakan mereka untuk melakukan hal itu.

Newegalen berkisah, awalnya ia dan kawan-kawannya menempati bangunan lama. Akan tetapi, kondisi bangunan sudah tidak layak untuk dihuni. Bangunan itu terbuat dari kayu, juga sudah termakan usia puluhan Tahun sehingga lapuk.

Selain itu sering tergenang banjir bila hujan tiba sebab terletak di tempat yang agak rendah. Mereka kemudian berusaha agar bisa tinggal dengan nyaman di sebuah bangunan baru yang lebih representatif di lokasi yang lebih aman dari banjir. Sayangnya, mereka tidak memiliki biaya untuk itu. Untuk maka saja boleh dibilang susah. Sehingga, salah satu cara adalah harus mengadu ke Pemkab Puncak.

Lagi-lagi, untuk sampai di Ibu Kota Kabupaten Puncak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ini bukan ke Kabupaten Paniai yang hanya bias ditempuh dengan kendaraan roda empat selama enam jam perjalanan.

Tekatpun telah bulat, namun tidak memiliki biaya untuk terbang dengan pesawat. Mereka kemudian nekat dengan melakukan perjalanan menuju Kabupaten Puncak.

Beberapa orang kemudian berjalan kaki pada 2017. Dari Nabire menuju Paniai yang jaraknya sekitar 400 km. Dari Paniai mereka melanjutkan berjalan kaki ke Intan Jaya, lalu ke Kabupaten Puncak yang jaraknya sekitar 300 km. Perjalanan mereka tentu saja berat karena dengan medan pegunungan.

“Kami hampir dua minggu jalan kaki, lalu di Puncak kami demo ke pemerintah dan meminta agar asrama yang kami tempati dibangun baru, lalu bupati saat itu (Wellem Wan-red) meminta kami kembali ke Nabire dan nanti bertemu di Nabire, dia (bupati-red) kasih kami uang transportasi untuk kembali ke Nabire,” kisah Newegalen.

Setibanya di tempat tujuan, demopun dilakukan. Lagi-lagi Pemkab Puncak memberi harapan bahwa mereka kebalike Nabire. Nanti, pemimpin daerah aka ke Nabire untuk melihatnya.

Pemerintah Daerahkemudian memberi sejumlah uang transportasi. Mereka lalu laik pesawat dantiba di Nabire. Namun, beberapa bula kemudian tak kunjung kabar diterima. Sementara dari informasi yang diperoleh, justri Bupati Puncak berencana akan ke Manokwari untuk meresmikan asrama mahasiswa asal Puncak di sana.

Beberapa orang kemudian nekat lagi untuk  menemui Bupati Punjak di Manokwari. Rencana pun berhasil dan mereka tiba di Manokwari bahkan bertemu sang Bupati.

Lagi-lagi Bupati kembali berjanji akan memenuhi permintaan mereka untuk membangun asrama baru. Bupati kemudian memberikan bantuan uang transportasi untuk mereka kembali ke Nabire.

“Kami balik lagi ke Nabire dan tunggu sampai capai,” kata Newegalen.

Hidup dalam penantian dengan bangunan asrama yang semakin parah, akhirnya mereka menginformasikan di Facebook. Beberapa komunitas yang melihat postingan anak-anak asrama tersebut kemudian mendatangi mereka untuk mengecek.

Ada Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP), Komunitas Enaimo Nabire (Kena), Komunitas Peduli Nabire (Kopena), dan lainnya. Gabungan komunitas tersebut berembuk dengan para penghuni asrama untuk mencari jalan keluar.

“Saya lupa bulannya, tapi awal 2021, komunitas yang datang mau bantu kami dikoordinir Bapak Amos Yeninar dari Yayasan Siloam Papua,” kata Emon Kiwak, ketua asrama kala yang berada di Jayapura dan diwawancarai Jubi via telepon.

Kiwak yang sekarang kuliah di Universitas Cenderawasih menceritakan dalam pertemuan akhirnya mereka sepakat untuk mengumpulkan sumbangan di jalan. Mereka menyodorkan kotak kemanusiaan kepada para pengguna jalan selama dua minggu pada Februari 2021.

Keluarga dan sanak-saudara para penghuni asrama juga ikut membantu sedikit demi sedikit. Juga pihak lain, salah satunya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Irian Sentosa, Kantor Cabang Nabire. BPR ini membantu 40 sak semen, 20 karton mie instan, dan 10 rak telur saat perayaan ulang tahun mereka.

“Tuhan telah mengirimkan orang-orang baik untuk membantu kami,” katanya.

Dari sumbangan itu terkumpul lebih Rp50 juta. Perencanaan pembangunan yang dikoordinir Amos Yeninar berjalan lancar. Mereka belanja kayu, seng, dan bahan lainnya, juga mengupah tukang.

Bangunan tersebut berukuran 12 X 8 meter. Ada tiga kamar, satu dapur, satu ruangan untuk menyimpan bahan makanan, dan satu ruangan tempat pakaian. Satu lagi ruangan besar yang difungsikan sebagai tempat pertemuan, sekaligus tempat tidur penghuni asrama.

“Kami sudah pindahkan bangunan ke tempat yang agak tinggi, jauh dari banjir, kebetulan tanah di sini ukurannya besar, sekitar 50 X 50 meter,” kata Kiwak.

Ia berterima kasih kepada Amos Yeninar dan aktivis komunitas yang telah membantu mereka keluar dari kesulitan.

“Kami sudah nyaman sekarang, terima kasih kepada Tuhan dan utusannya untuk bantu kami,” kata Amiler Magai, ketua asrama yang baru.(*)

Pos terkait

PHP Dev Cloud Hosting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.