Gembalakanlah domba-dombaku

Sumba, Gembala domba di Sumba Timur - Dokpri/Facebook

Bapa mantu bilang, “Yansen, apakah engkau mencintai anakku?”

Lalu dia menjawab, “benar Bapa, saya mencintai anak bapa.”

Bapa mantu tak puas dan mengetes lagi, “Benarkah engkau mencintai anakku?”

Dengan matang pemuda ini menjawab, “Benar, Bapa. Saya sangat mencintai anak Bapa.”

Lalu bapa mantu mengangguk-angguk. Ketiga kalinya dia berkata, “Kalau begitu gembalakanlah domba-dombaku, dan tinggallah di sini.”

Pemuda ini tersenyum. Sontak ia teringat kata Tuan Guru ketika berdialog dengan Petrus yang kemudian membaptis Kefas si nelayan itu, sebagai Petrus atau batu karang.

Cerita di atas hanya imajinasi saya. Saya karang-karang saja. Inspirasinya dua: usai melihat foto saudara saya yang sedang menggembalakan domba dan dialog Yesus dengan Petrus di pantai Danau Tiberias, seperti dicatat penginjil Yohanes dalam Yoh 22:15-17.

Intro itu pun sekadar bikin tersenyum atau tertawa, untuk memberi caption foto tadi. Saya memang senang mengutak-atik kata apabila melihat gambar atau foto. Ide-ide hampir pasti bergelantungan di langit-langit kepala untuk menulis puisi atau apapun.

Oleh sebab itu, ide terlintas begitu saja tatkala melihat foto saudara saya, Arnoldus Yansen Adiman, yang menggembalakan domba-domba di Sumba Timur, Nusa Tetap Tersenyum, atau Nusanya Teman Timo alias NTT.

Saya tidak tahu apakah dia bisa menggembala domba-domba, karena di Ketang, kampung halamannya (dan saya) tidak ada domba. Palingan hanya kambing, bangsa domba.

Tapi saya yakin pemuda berambut keriwil perang, yang memikat hati gadis Sumba berdarah Sabu ini, sudah dibekali cara menggembalakan domba ketika menuju Sumba. Puji Tuhan aman terkendali.

“Lelaki harus berani, termasuk berani ke rumah amang,” katanya suatu saat sambil tertawa, ketika sedang dalam perjalanan Jayapura-Surabaya-Kupang-Waingapu, untuk menemui keluarga si Ina Sabu.

Kami pun menjawab dengan senyam-senyum. Lalu bersenda-gurau. Rame sudah.

Memang harus begitu. Berani masuk rumah, masuk minta, masuk kamar, dan masuk ke keluarga, sebagaimana layaknya ikatan perkawinan katorang orang Flobamora, yang kemudian oleh karena perkawinan dapat mengikat kekerabatan kedua kampung, keluarga, dan kedua mempelai.

Kembali ke Sumba dan domba. Sumba bukan hanya padang sabana. Bukan pula hanya Nihiwatu atau Marapu dengan pasolanya, atau sunrise dan sunset-nya yang membuat mata tak mau diajak berkedip.

Bukan pula hanya kuda sandelwoodnya yang lincah-lincah dan padang sabana nan memukau itu. Atau rumah tradisional dan situs-situs arkeologis peninggalan masa lalu, serta kain tenunnya.

Bukan pula hanya view eksotis setting film Marlina Pembunuh Empat Babak (2017) dan Susah Sinyal (2017). Juga bukan hanya sang maestro sastra Tuan Umbu Landu Paranggi.

Sumba adalah tentang banyak hal. Domba misalnya. Ketika Yansen memberitahu bahwa di Sumba ada peternakan domba, saya lantas tertawa. Terkekeh. Terbahak. Tersenyum. Plus tersedak karena sedang minum tuak.

Saya rasa lucu saja. Alasannya sederhana. Selama ini saya hanya mengenal domba dalam kitab suci. Di Asia Barat sana. Di Tanah Israel. Ups, ternyata di tana aer beta ju ada. Makanya saya tertawa.

Betapa tidak, di Flores, terutama Manggarai tempat saya lahir dan dibesarkan, saya hanya mengenal kuda, kerbau, sapi atau kambing, babi, komodo dan satwa-satwa lainnya.

Provinsi dengan 22 kabupaten/kota dan ribuan pulau itu memang dikenal dengan daerah pariwisata. Juga peternakan, salah satunya domba.

“Di Riung juga ada domba e,” kata adik saya, RP Iwantinus Agung, SVD, ketika mengomentari foto yang diunggah ke laman facebook.

“Aeh, kalau begitu saya yang kurang piknik e Ase Tuang,” saya bergurau.

Di Riung, Kabupaten Ngada, di pesisir utara Flores bagian barat, memang banyak ternak domba. Mengutip “Ngada Dalam Angka 2019” dari laman Pemkab Ngada, populasi ternak domba pada 2018 sekitar 3,3 ribu, dengan populasi terbanyak di Kecamatan Riung sebanyak 3,1 ribu ekor, disusul Riung Barat sebanyak 73 ekor.

Populasi domba di Ngada memang lebih kecil dibanding ternak babi dengan populasi sekitar 173 ribu, yang disusul sapi potong sekitar empat ribu atau mendekati lima ribu ekor. 

Sedangkan di Sumba, terutama Sumba Timur, seperti dikutip Pemkab Sumba Timur dari data Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur 2020 dan Sumba Timur Dalam Angka 2019, bahwa terdapat sekitar 57,8 ribu ternak kambing/domba.

Sama seperti Ngada, Sumba Timur juga memiliki populasi sekitar 124,6 ternak babi dibandingkan domba.

Ternak domba memang lebih sedikit dibandingkan ternak-ternak lainnya. Namun pada umumnya di NTT, tak terkecuali Sumba Timur, ternak memiliki nilai budaya, sosial, dan ekonomis.

Ternak dijadikan belis atau maskawin. Dalam bahasa Manggarai disebut paca. Ternak bernilai ekonomis karena menjadi sumber pendapatan melalui perdagangan, baik di dalam pulau, maupun perdagangan antarpulau.

Bila kau menyeberangi Laut Sawu yang menyatu dengan Samudra Hindia, dan ganas itu, ke arah selatan dari Flores, itu Sumba, pulau dengan luas 11 ribu meter persegi, yang terdiri atas empat kabupaten—Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.

Pulau dengan satar atau padang nan luas dan memukau itu membikin kangen. Begitu kata para pelancong dalam tulisan-tulisan yang dijumpai di laman maya. Panoramanya alamiah. Lukisan Sang Maha Indah. Sastrawan Taufik Ismail (1970) terkagum-kagum padanya hingga kelak diabadikan dalam puisi “Beri Daku Sumba”.

 Saya meminjam bait terakhirnya saja:

“Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Di mana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak melenguh

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh”

Ya, pelesirlah ke Flobamora—yang bersebelahan dengan Australia dan saudara dekat Timor Leste itu, tidak hanya menyusuri laut dan pantainya, gunung dan padang mahaluas serta ternak-ternaknya, tetapi kau juga harus live in lebih lama, agar pulang membawa kenangan dan mengabadikannya dalam cerita, puisi atau lagu.

“Aeeeh, saya su di Sumba kaka, bapa mantu bilang gembalakanlah domba-dombaku,” kata Yansen sambil tertawa ria.

#2021

Timoteus Rosario Marten

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 Komentar

  1. Ping-balik: Dan Helmer