Pengadaan alat diagnosis Covid-19, Pemprov hanya mendampingi

Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, Dokter Silwanus Sumule – Bumiofinavandu/IST.

Nabire, Bumiofinavandu – Pemkab Nabire dan tim satuan tugas covid-19 masih kewalahan dalam memenuhi stok persediaan alat pemeriksaan covid-19. Hingga hari ini sejak Januari silam, pemeriksaan masih dilayani klinik-klinik swasta. Pemkab telah berupaya untuk berkoordinasi dengan Provinsi namun belum terealisasi. Imbasnya, data infografis covid di daerah ini tidak mengalami perubahan.

Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Satgas Covid-19 Provinsi Papua, Dokter Silwanus Sumule, ketika dikonfirmasi pada Minggu (28/2/2021) mengatakan menyangkut alat diagnostic (PCR) polymerase chain reaction (antigen, antibody), Tes Cepat Molekuler (TCM), diawali pandemi ada intervensi dari Provinsi atau Satgas terhadap Kabupaten Kota.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu maka peran Provinsi tidak lagi menjadi stimulator, namun hanya mendampingi.

“Pemprov atau satgas Provinsi hanya bersifat mendampingi. Kalau awal pandemi memang ada intervensi,” kata dokter Sumule melalui pesan whatsappnya.

Sehingga menurut Sumule, stimulator harus diambil alih oleh Kabupaten Kota bersama Dinas Kesehatan guna menopang pelayanan di pusat kesehatan masyarakat (PKM) atau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) setempat.

Mengingat, Kabupaten Kota masing-masing memiliki anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Lalu ada Dana alokasi khusus (DAK), dana alokasi umum (DAU) yang dapat dimanfaatkan.

“Jadi sekali lagi Provinsi hanya mendampingi,” tuturnya.

Kata Dia, secara aturan data covid bersifat buttom up dari bawa keatas. Dan data yang dilaporkan oleh provinsi atau pusat adalah hasil dari Kabupaten. Kabupaten mendapat hasil rekap dari PKM dan RSUD untuk dilaporkan ke Provinsi.

“Maka, bila tidak dilaporkan ke Provinsi maka Provinsi tidak melaporkan ke pusat,” lanjut Sumule.

Terkait tes antigen oleh klinik swasta lanjut jubir covid Sumule, pihak swasta bisa mendukung. Akan tetapi, tidak boleh mengambil peran central. Sebab swasta pasti berbayar dan yang tentunya merasakan pasti rakyat.

“Swasta dan pemerintah saling mendukung, tapi jangan sampai perannya sentral,” lanjut Dia.

Sebelumnya, Juru bicara (jubir) Tim Gugus Covid-19 Kabupaten Nabire, Dokter Frans Sayori, mengatakan sejak 12 Januari 2021, infografis data kasus Covid-19 di Nabire tidak mengalami perubahan. Hal tersebut disebabkan kosongnya ketersediaan cartridge untuk pemeriksaan Covid-19 pada alat TCM RSUD Nabire.

“Sudah beberapa minggu ini cartridge kosong,” ujar Sayori.

Dai Sayori sapaan akrab dokter dari Kampung Napan ini, menjelaskan walaupun sejak itu data pasien mengalami beberapa tambahan akan tetapi data infografis tidak berubah.

Walaupun tidak menyebutkan angka pasti, Sayori menyebut kasus Covid-19 di kabupaten di ‘leher’ pulau Papua ini terus bertambah dalam beberapa pekan terakhir. Sehingga, solusi dilakukan adalah melalui swab antigen. Namun swab antigen tidak dapat dimasukkan ke dalam data infografis sebab tidak termasuk dalam aplikasi pencatatan pelaporan. KecuaIi, alat TCM yang termasuk dalam pencatatan sistem informasi tuberkolosis terpadu (SITT).

“Jadi kalau mau masukan ke infografis, harus melalui pencatatan SITT. Maka konsekwensinya sebagai mitra pemerintah atau NGO dan biaya mandiri (Biaya sendiri),” ujar Sayori.

Lanjutnya, Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Nabire telah berkoordinasi dengan RSUD dan sudah meminta ke Provinsi Papua, namun karena persediaan terbatas dari pusat maka belum dipenuhi.

Selain itu, Tim Gugus Tugas Covid-19 masih menunggu juknis hasil rapid test antigen, apakah dapat dimasukan ke dalam data infografis.

“Jadi sekali lagi untuk seentara kita masih rapid test antigen oleh klinik-klinik swasta yang ada di Nabire,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah Kabupaten Nabire, Daniel Maipon, dalam satu kesempatan mengatakan setelah berkoordinasi dengan provinsi kabarnya stok dari pusat untuk kabupaten kota juga terbatas.

Pihaknya kemudian berencana membeli atau pengadaan namun alat yang digunakan reagen-nya yang harus dari Kementerian Kesehatan.

“Jadi kami ada minta kepada direktur RSUD untuk mencari TCM lain yang bisa digunakan bagi pemeriksaan pasien Covid-19,” tambah Maipon.(Red)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 Komentar

  1. Ping-balik: xo666
  2. Ping-balik: blue punisher