Jembatan penghubung nyaris putus, Ini kata warga Waharia

Dua siswa sekolah dasar saat melintas di jembatan Sanoba bawah yang nyaris putus – Bumiofinavandu.

Nabire, Bumiofinavandu.id – Jembatan penghubung antara kampung Sanoba bawah, Distrik Nabire dan Kampung Waharia, distrik teluk kimi, Kabupaten Nabire, Papua nyaris terputus. Hal tersebut diduga sudah berlangsung lama bahkan belasan Tahun. 
Ketua RT01 Kampung Waharia Distrik Teluk Kimi, Aser Raubaba, mengatakan jembatan tersebut bukan hanya sebagai penghubungkan dua kampung, tetapi sekaligus sebagai akses menuju tempat wisata pantai Gedo. 
“Ini bukan hanya menghubungkan dua kampung ini, tetapi akses utama menuju pantai wisata Gedo,” kata Raubaba di Nabire. Senin (25/1/2021). 
Menurut Aser, jembatan yang dibangun semenjak Tahun 1990-an itu sering mengalami kerusakan dipicu banjir. Tiang utamanya sudah membengkok dan miring dan kayunya sering lapuk. Jika demikian, tidak bisa dilalui kendaraan baik roda dua maupun empat. 
Sehingga, ia dan warga setempat sering bergotong-royong mengumpulkan bahan (kayu dan paku) jika terjadi kerusakan, untuk memperbaiki. 
“Ini jembatan sudah lama, hampir 20 tahun terakhir selalu rusak. Entah banjir atau kayu yang lapuk dan dan kami sering perbaiki,” tuturnya. 
Ia menjelaskan, kepeduliannya dan warga setempat memperbaiki jembatan itu, lantaran selain akses utama juga dilalui akan sekolah dari Kampung Waharia yang mengenyam pendidikan baik SD maupun SMP di kampung Sanoba. 
Sehingga, mau tak mau harus ada uluran tangan. Sebab, jika jembatan terus dibiarkan maka anak sekolah harus membutuhkan waktu beberapa menit (kurang lebih satu jam) dengan berbalik haluan menuju jalaan raya Nabire Samabusa (bagian atas). Hal tersebut akhirnya mengadarkan warga untuk terus memperbagiki bila terjadi kerusakan. Padahal sudah lebbih 15 kali mengalami kerusakan parah. 
“Kami sebenarnya tidak pusing kalau kendaraan lewat sini. Tapi karena peduli terhadap akan-anak sekolah kami yang lewat sini kesekolah. Baik kalau mereka ada kendaraan, ya putar lewat jalan atas. Tapi kalau tidak maka ojek sarannya tapi tepat lewat atas,” jelas Raubaba. 
Yang mengherankan Raubaba adalah dengan kesekian kalinya jembatan rusak, namun tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah. Padahal, pengunjung ke pantai gedo sering malalui jembatan tersebut, bahkan petugas instansi teknis. 
Raubaba mengaku pernah diminta untuk memalang jembatan itu agar tidak boleh dilalui siapapun. Akan tetapi, ia tidak melakukannya sebab mengingat anak-anak sekolah. 
“Jujur saja sudah banyak yang hasut saya untuk palang saja. Tapi saya bilang tidak, karena kalau palang lalu bagaimana anak-anak ini ke sekolah. Kan tidak semua orang tuanya ada kendaraan yang bisa saja putar lewat atas, itu yang saya tidak palang,” tuturnya. 
Raubaba berharap kepada pemerintah daerah untukmmembantu menopang warga dengan memperbaiki jembatan itu agar dilalui nyaman oleh masyarakat. 
“Tolong bantu kami perbaiki jembatan ini. kalau bisa saya minta bupati terpilih nanti segera perbaiki jembatan ini,’ harap pria asal Serui ini. 
Subaeda warga lainnya mengakuh takut jika melewati jembatan sanoba bawah kala mengantar anaknya ke sekolah. Sebab, selain miring, kayunya sebagian lapuk, belum lagi jika terjadi hujan tentunya licin. Ia memili melewati jalur atas walau jaraknya sedikit jauh (putar) dari pada harus celaka di atas jembatan. Walaupun kadang terlambat jika mengantarkan anaknya ke sekolah. 
“Kalau saya itu takut lewat situ. Kayu lapuk, licin kalau hujan, miring juga jembatannya. Jadi biar putar atas tidak apa-apa. Kadang juga terlambat kalau pagi-pagi anak ke sekolah,” tabah Subaeda.(Red)
PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.