Keluh kesah usaha warung makan di Nabire

Warung lamongan milik Tugiman – Bumiofinavandu.

Nabire, Bumiofinavandu – Covid-19 sangat besar terhadap segala aspek kehidupan. Salah satunya di bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Khususnya di Nabire, beberapa pemilik warung mengaku kelabakan ketika kasus terus meningkat di daerah Ini. 

Salah satu pemlik warung di Jalan Yos Sudarso, Tugiman mengaku agak repot dan sepi pendapatan yang diperolehnya. 
“Jujur saya sedikit repot saat ini. pengunjung sedikit sepi dibandingkan sebelum pandemi,” ujar Tugiman Rabu pekan lalu. 
Ia mengaku, sebelum covid-19, pendapatan rata-rata bersih bisa mencapai Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) untuk satu malamnya. Namun kini, untuk mendapatkan Rp 500.000 (lima ratus) ribu tidak kesampaian. 
Bahkan ia mengaku, diawal pandemi dua bulan tutup total akibat pembatasan sosial. Kini, pembatasan itu telah dihentikan namun pengunjung belum normal seperti sebelumnya. 
“Dua bulan awal memang tutup total. Sekarang sudah buka lagi tapi belum terlalu ramai. Ini sudah naik terus orang kena covid, tidak tau nanti bagaimana,” tutur pria 50 Tahun asal Lamongan ini. 
Tugiman mengatakan, khawatir jika nantinya Nabire atau Papua kembali menerapkan pembatasan sosial. Pasalnya, ia dan keluarganya mempunyai beban sekaligus kewajiban yang harus disetor tiap bulannya ke salah satu Bank lantaran mengajukan kredit sejumlah uang. 
Kredit ini ia lakukan sebab sebelumnya terjadi kebakaran di kompolek Oyehe beberapa waktu lalu sebelum pandemi. Dan keluarganya terpaksa mengajukan kredit untuk membangun kembali rumah. 
“Yang buat pusing itu adalah kredit. Karena rumah kami terbakar waktu itu (Tahun 2019). Kami terpaksa kredit dan harus setor Rp. 20 Juta per bulan ke Bank selama delapan belas bulan,” kata Tugiman. 
Ia menjelaskan, ia dan keluarganya memimjam uang hampir setengah milyar dan dibebankan untuk seluruh keluarga. 
Mengingat, warungnya dikelolah olah seluruh anggota keluarganya. Ia juga mengaku, sejak dua bulan tidak beroperasi, namun cicilan bank wajib disetor. 
“Kami sekeluarga dan semua kerja di warung ini (Istri dan kedua anaknya). Maka tiap bulan harus berusaha untuk menyetor ke bank, waktu dua bulan tidak buka bank tidak mau tau apapun alasan dan harus bayar,” kata Ayah dua anak ini. 
Terpisah, Pemilik warung Sejahtera, Gunawan mengakuh hal sepura juga dialami. Namun berbeda dengan Tugimin, pasalnya Gunawan memiliki tiga orang karyawan. Ini, hanya satu yang masig dipertahankan dan dua lainnya sudah dirumakhkan semenjak bulan maret silam. 
Pemilik warung yang beraktifitas sejak pukul 15.00 – 21.o0 ini, kedua karyawan yang dirumahkan terpaksa harus diperhatikan tiap bulannya sebab mereka punya keluarga. 
“Saya punya beban. Ada dua karyawan yang terpaksa disuruh istiratat. Tapi jujur saja tiap bulannya harus kasih biar sedikit untuk kebutuhan sehari hari. Saya mau suruh berhenti total tapi tidak tegah, jadi hanya istirahat sementara tunggu situasi normal baru kembali mereka bekerja,” Ujar Gunawan.(Red)
PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.