Suku Yerisiam akan kembangkan Museum Alam

  • Whatsapp
Areal yang direncanakan Suku Yerisiam untuk dijadikan Museum Alam – BuiofiNavandu/Dok Suku Yerisiam.

Nabire, Bumiofinavandu.Id – Hasil rapat Suku Besar Yerisiam Gua khususnya sub suku Waoha pada (26/06), telah disetujui tiga kesepakatan. Pertama, akan melakukan pemetaan untuk wilayah yang akan dijadikan sebagai museum alam. Kedua, mengangkat ketua-ketua marga (Fam/kerek) dan ketiga, melakukan survei dan pemetaan di wilayah atau area sub suku Waoha.

“Dari hasil rapat itu, pada sabtu kemarin kami sudah melakukan pemancangan di area yang akan dijadikan museum alam. Ini sebagai tindak lanjut dari hasil kesepakatan poin pertama,” ujar juru bicara suku besar Yerisiam Gua, Sambena Inggeruhi di Nabire. Selasa (07/07/2020).

Menurutnya, hal itu perlu dilakukan untuk melindungi alam dan habitat didalamnya. Sebab saat ini hutan sudah rusak, sehingga pihaknya ingin menunjukan kepada anak cucu agar mereka kelak tidak hanya memelihat dari foto (gambar) serta mendengar cerita jika ada alam dan isinya pernah ada diwilayah itu.

“Kami pikir bahwa kalau hutan dibiarkan rusak maka anak cucu hanya akan lihat dari foto atau cerita,” tuturnya.

Inggeruhi bilang, pihaknya telah menyadari sebagai orang tua sudah ikut membiarkan hutan dan isinya dirusak. Misalnya, dengan masuknya sawit, penebangan hutan baik disengaja ataupun tidak dan pemburuan satwa secara liar didalamnya.

Sehingga, dengan kesepakatan bersama untuk melindungi sebagian hutan yang berkolasi diantara Kali (Sungai Bambu) dan Kampung Wami ini akan benar-benar di jaga untuk tidak rusak, segala jenis pohon dan satwa di dalam areal tersebut. kesadaran itu timbul dari masyarakat dan pengurus suku Besar Yerisiam.

“Jadi kami bersepakat untuk lindungi dan tidak di rusak baik oleh kami sendiri atau siapapun mulai saat ini. ini, merupakan kesadaran yang timbul dari masyarakat dan kami semua akan bertanggungjawab untuk hal ini.

Imanuel Money, menambahkan, sisah hutan yang ada di wilayahnya sudah tidak banyak lagi. olehnya itu, tidak ada alasan lain untuk bersepakat dan menjaga hutan serta isinya. Pihaknya akan selalu menjaga keputusan bersama itu, agar anak-anak kelak tidak hanya mendengar nama jenis kayu dari buku atau dari foto, tetapi melihat langsung bahwa inilah alam mereka.

“Kami sebagai orang-orang tua sudah sadar. Jadi jangan sampai anak cucu kedepan hidup di daerah tandus tidak berpohon. Sehingga, kesepakatan ini akan kami laksanakan dan saat ini sedang kami persiapkan segala keperluan untuk melindungi areal ini dari siapapun termasuk kami sendiri untuk tidak di rusak,” tandas Kepala Sub Suku Waoha ini.(Red,Tiru).

Pos terkait

PHP Dev Cloud Hosting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.