Kritik

Alangkah baiknya, sebelum mengkritik, diperjelas dulu alias bilang dulu atau berbuat dulu sesuatu sebelum dikritik.
“Kamu sukanya mengkritik, coba lakukan sesuatu. Apakah kamu bisa?” Atau “Banyak omong, apakah kamu bisa seperti dia?”
Kata atau kalimat di atas seringkali terdengar sebagai respon dari sebuah kritikan? 
Sebaiknya, mendengar kritik lebih bagus lagi dari orang yang lebih ahli atau bahkan memiliki background bidang yang sama di bidangnya.
Saat ini, ditengah modernisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, serta demokrasi, banyak terdapat kritikan yang bisa saja disengaja ataupun tidak. parahnya, kritik banyak terjadi tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, mungkin saja kritik terjadi akibat dari ketidaktahuan.
Banyak kritik, tetapi tidak pernah melihat dan merasakan. Ada juga kritik karena hanya untuk sekedaar mencari nama, mencari kepentingan dan atau kepentingan tak terakomodir karena terkalahkan.
Kritik juga banyak terlihat akibat dipadukan dengan persoalan pribadi, dan lebih parahnya lagi kritik terjadi karena tidak pernah berpikir positif, pikiran dangkal, emosi dan sebagainya.
Seharusnya, kritik yang sesungguhnya perlu disampaikan dengan menempatkan masalah dengan jelas dan diperkuat dengan data. Kemudian perlu juga disertai dengan sumber. Sehingga, ada ruang dalam mengkritik sesuatu.
Apa itu kritik
Kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta memperluas apresiasi. atau, setidaknya membantu memperbaiki pekerjaan tentang aa yang sedang dikritik.
Secara etimologi “kritik”, berasal dari bahasa Yunani κριτικός, ‘clitikos – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuno κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan. 
Kritikus modern, mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah. Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah. 
Kritik Seni
Kritik Seni, merupakan usaha pemahaman dan penikmatan karya seni. Kritik merupakan kajian rinci dan apresiatif dengan analisis yang logis dan argumentatif untuk menafsirkan karya seni. Sebagai aktivitas evaluasi kritik harus sampai pada kenyataan nilai baik dan buruk. Bahkan sampai dalam konteks karya yang sejenis (Aschner, 1956; Prall, 1967; Flaccus, 1981, Feldman, 1981).(https://id.wikipedia.org/wiki/Kritik.)
Kritikus harus memiliki keahlian dan kemampuan untuk menjembatani karya seniman kepada apresiator agar mudah dimengerti. Peran Kritikus disini menjadi amat penting apabila apresiator tidak memiliki pemahaman tentang seni rupa. 
Kritikus harus memiliki pemahaman tentang karya yang dibuat oleh seniman tersebut, maknanya, apa yang berusaha diekspresikan atau informasikan. Kritikus juga harus memahami subjek pembuat karya tersebut, karena karya tersebut pastinya memiliki ikatan terhadap senimannya itu sendiri. 
Dari karya dan senimannya, kritikus harus memahami kebudayaan yang sedang populer di masyarakat. Kritikus harus bisa mengemas karya seni tersebut sedemikian rupa agar dimengerti oleh masyarakat, strategi-strategi sebaiknya dibuat oleh kritikus sebagai langkah penunjang karya seni tersebut diterima dimasyarakat.
Kritik sebaiknya dapat membantu apresiator membangun hubungan dengan karya tersebut. Kritik akan berhasil ketika apresiator memiliki simpati terhadap karya tersebut. Simpati disini maksudnya si apresiator dapat memahami kejadian atau informasi yang disampaikan oleh suatu karya seni. Level setelah terbangunnya simpati adalah terbangunnya empati. Apresiator dapat membayangkan kejadian atau informasi yang disampaikan apabila empati telah terbangun. 
Level yang tertinggi adalah apabila telah muncul interpenetrasi antara karya dan apresiator. Di level ini, apresiator telah dapat membayangkan kejadian dan memasukkan dirinya dalam kejadian tersebut sehingga tercipta hubungan yang sangat erat antara karya dan dirinya. Di level-level ini lah biasanya kolektor-kolektor membeli karya-karya seniman. 
Tipe Kritik Seni
Ada, terdapat empat  tipe kritik seni yang dikategorikan menurut struktur dan pendekatannya.
1.  Tipe Jurnalistik
Tipe kritik ini memiliki karakteristik utama sebagai media pemberitaan. Kritik ini biasa disampaikan kepada pembaca lewat surat kabar dan majalah. Tujuan utama kritik ini adalah memberikan informasi kepada pembaca mengenai berbagai peristiwa kesenian. Jenis Kritik ini jarang dibuat dalam format yang panjang, serta komprehensif menitik beratkan tulisan kepada aspek informatif.
2.  Tipe Pedagogik
Kritik pedagogik diterapkan dalam proses belajar dan mengajar di lembaga/institusi pendidikan seni. Jenis kritik ini dikembangkan oleh guru/dosen dengan tujuan utama mengembangkan bakat dan potensi artistik dan estetik peserta didik sehingga mereka memiliki kemampuan mengenali bakat dan potensi pribadinya masing-masing.
3.  Tipe Ilmiah
Tipe kritik ini sangat bersifat akademis membutuhkan kepekaan yang tinggi untuk menanggapi suatu karya seni. Tipe ini digunakan biasanya sebagai panduan atau acuan terhadap suatu penelitian atau referensi para kolektor, kurator, museum, dan galeri. Dibutuhkan pengalaman dan keahlian yang sangat tinggi dalam kritik seni untuk dapat melakukan kritik ini. Biasanya kritik tipe ini dilakukan oleh para pakar yang kemampuan intelektualnya sudah tidak diragukan lagi oleh masyarakat.
4.  Tipe Populer
Kritik populer ditujukan untuk masyarakat umum. Sifatnya biasanya hanya sebatas pengenalan sebuah.(Red)
PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 Komentar

  1. Ping-balik: more
  2. Ping-balik: 변마
  3. Ping-balik: DevOps consulting
  4. Ping-balik: Read Full Report