Kisah Anak Cacat yang Menaklukkan Dunia: Abraham Maslow

Abraham Harold Maslow, mendeklarasikan dirinya sebagai salah satu ilmuan terkenal sepanjang masa, dan tokoh humanistik terpopuler hingga detik ini, dengan menggagas teori yang sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang ilmu apapun dan kajian manapun, yaitu teori “Hierarki Kebutuhan Maslow”.

 
Ya, Maslow adalah salah satu dari sekian banyak jenius Yahudi yang pernah menaklukkan dunia dengan kepintarannya. Maslow lahir dan dibesarkan di negara Rusia, yang kemudian muncul sebagai salah satu psikolog Amerika yang termasyur dengan konsep “Hierarki kebutuhan Maslow”, yaitu teori kesehatan psikologis yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan bawaan manusia dalam prioritasnya, yang berpuncak pada aktualisasi diri.
 
Hierarki kebutuhan tersebut, terdiri dari: 1) Kebutuhan fisiologis atau dasar panjang masa; 2) Kebutuhan akan rasa aman; 3) Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi; 4) Kebutuhan untuk dihargai; 5) Kebutuhan untuk aktualisasi diri. 
 
Maslow juga seorang Profesor Psikologi yang berasal dari Brandeis University, Brooklyn College, yaitu sekolah dalam bidang penelitian sosial. Dimana sebelumnya Maslow diketahui berasal dari Columbia University. 
 
Dalam kajian psikologi humanistiknya, Maslow menekankan tentang pentingnya fokus pada kualitas positif seseorang—yaitu suatu perlawanan memperlakukan mereka dengan cara yang disebut Maslow sebagai “a bag of symptoms” (kantong gejala).

Masa Kecil Maslow Sang Cacat

Maslow lahir pada tanggal 1 April 1908, dan dibesarkan di daerah Brooklyn, New York, dimana dia dilahirkan sebagai anak tertua dari tujuh orang bersaudara. Namun, menurut para psikolog, Maslow merupakan anak yang lahir dalam keadaan “mentally unstable” (tidak stabil secara mental).

Orang tua Maslow adalah generasi pertama kaum imigran Yahudi dari negara Rusia, yang saat itu melarikan diri dari penganiayaan Tsar pada awal abad ke-20. Kedua orang tua Maslow tinggal di New York City, di lingkungan multi-etnis, yaitu lingkungan kelas para pekerja. Orang tua Maslow miskin dan tidak memiliki orientasi intelektual apapun.

Tetapi mereka sangat menghargai pendidikan, sehingga hal ini berdampak pada perkembangan Maslow selanjutnya. Saat di sekolah, Maslow mengalami perlakuan anti-semitisme dari gurunya dan dari anak-anak lain di sekitar lingkungannya. Itu sebabnya, masa kecil adalah waktu yang amat sangat sulit bagi Maslow.

Saat itu, ia dikucilkan dari lingkungan sekitar ia berada. Perlakuan ini diterimanya karena keadaan tubuhnya yang banyak memiliki kekurangan fisik dan mental—bahkan ia sering kali bertemu dengan geng anti-Semit yang selalu mengejar dan melemparinya dengan batu.

Pada saat itu, Maslow dan anak-anak lain yang sama latar belakang keadaan fisik dengannya, selalu berjuang untuk mengatasi tindakan seperti “rasisme” dan “prasangka etnis” dalam upaya untuk membangun dunia idealis berdasarkan pendidikan yang luas dan keadilan moneter.

Selain ketegangan di luar rumahnya, justru terasa lebih tegang lagi kondisi di dalam rumahnya sendiri. Ia jarang bergaul dengan ibunya dan saudara-saudaranya. Seperti dikutip dari “Wikipedia; The Free Encyclopedia”, edisi 4 Maret 2014, yang menuliskan..

…“What I had reacted to was not only her physical appearance, but also her values and world view, her stinginess, her total selfishness, her lack of love for anyone else in the world—even her own husband and children—her narcissism, her Negro prejudice, her exploitation of everyone, her assumption that anyone was wrong who disagreed with her, her lack of friends, her sloppiness and dirtiness..”He also grew up with few friends other than his cousin Will, and as a result”…(He) grew up in libraries and amongbooks

Segala bentuk perlakuan diskriminasi yang diterima Maslow karena kekurangan mentalnya—baik itu diluar rumah, maupun didalam rumahnya sendiri—sebenarnya begitu sangat memprihatinkan dan merugikan untuk seorang anak kecil yang sedang bertumbuh dan berkembang pada usia kanak-kanak.

Semua orang pada masa itu, bereaksi negatif melihat Maslow, sehingga Maslow hampir tidak memiliki teman. Dia juga dibesarkan dengan beberapa teman selain sepupunya Will, dan sebagai hasil dari pengucilan terhadap dirinya, akhirnya dia sering mengunjungi perpustakaan-perpustakaan sebagai tempatnya berlindung dari kejamnya nasib yang di deritanya dalam dunia ini.

Akhirnya, Maslow pun terbiasa dengan dunia buku, dan dibesarkan di perpustakaan, sehingga diantara buku-buku inilah, Maslow kemudian mengembangkan minatnya untuk membaca dan belajar. Ya, Maslow tidak putus asah, dan selalu semangat mengejar cita-citanya.

Menginjak masa remaja, sebagai anak muda, Maslow percaya bahwa kekuatan fisik menjadi karakter yang paling khas (tunggal) dari pria sejati, sehingga dia sering melakukan olahraga angkat berat, yaitu dengan harapan bahwa kondisi tubuhnya berubah menjadi lebih sangat berotot, sebagaimana umumnya tampak pada pria-pria yang tangguh.

Namun pada akhirnya dia tidak dapat mencapai hal itu. Diketahui bahwa Maslow pernah masuk dan bekerja di Boys High School, salah satu sekolah menengah atas di Brooklyn. Di situ Maslow menjadi petugas dari banyak klub akademik, dan menjadi editor majalah Latin—selama satu tahun lamanya, ia juga menjadi pengedit principia, kertas fisika sekolah.

Secara keseluruhannya, masa remaja Maslow terasa sangat terisolasi—bahkan tidak bahagia. Karenanya, dalam sepanjang kurun waktu masa remajanya, ia hanya tumbuh dan menghabiskan seluruh waktunya di perpustakaan, yaitu diantara buku-buku yang selalu di bacanya.

Pada tahun 1926, Maslow mulai mengambil kelas studi bidang hukum, yang berkuliah pada malam hari di samping beban sarjana lainnya. Pada tahun 1927 ia pindah ke Cornell, tapi selanjutnya ia keluar setelah hanya berkuliah selama satu semester saja, karena nilai yang buruk dan biaya kuliah yang tinggi saat itu.

Perjalanan Menuju Kesuksesan
Maslow berhasil lulus dalam tes masuk di City College, yang kemudian menempuh pendidikannya pada program studi pascasarjana di University of Wisconsin dalam bidang studi psikologi.  Ketika berada di Wisconsin, ia sempat mengajarkan garis penelitian, yang sekaligus menyelidiki perilaku dari dominasi primata dan seksualitas. Pengalaman awal Maslow bersama teori behaviorisme, mempengaruhinya untuk berpikir dengan pola pikir positivis yang sangat kuat. Kemudian, berdasarkan rekomendasi dari Profesor Hulsey Cason, Maslow menulis tesis masternya dengan judul “Learning, retention and reproduction of verbal material“. Saat itu penelitiannya justru dianggap oleh para akademisi sebagai karya ilmiah yang paling bobrok dan memalukan. Namun, ia tetap terus menyelesaikan tesisnya hingga musim panas tahun 1931, yang pada akhirnya dia dianugerahi gelar master di bidang psikologi. Tetapi kemudian, Maslow begitu malu ketika tesisnya disingkirkan dari perpustakaan psikologi, bahkan daftar katalognya di robek. Namun, Profesor Carson mengagumi penelitian Maslow dan mendesaknya untuk mengirimkan kepadanya agar di publikasikan lagi. Akhirnya, tesis Maslow diterbitkan juga dalam bentuk dua artikel pada tahun 1934.Karir akademik Maslow, yaitu dengan memperoleh gelar Bachelor pada tahun 1930, Magister pada tahun 1931, dan Doktor (Ph.D) pada tahun 1934. Selanjutnya Maslow memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia. Di sana ia bertemu dengan mentor lainnya, seperti Alfred Adler yang merupakan salah satu kolega awal Sigmund Freud. Dari tahun 1937 hingga tahun 1951, Maslow berada di fakultas Brooklyn College. Pada tahun 1928, Maslow menikah dengan sepupu pertamanya bernama Bertha yang masih duduk di bangku SMA pada waktu itu. Pasangan ini bertemu di Brooklyn, dimana saat itu Maslow melakukan pelatihan dalam kajian psikologi dengan dasar ilmu eksperimental-behavioris.Setelah Perang Dunia II berakhir, Maslow terlibat dialog hebat dengan psikolog-psikolog lainnya, yaitu dengan mempertanyakan cara psikolog menyimpulkan teori-teori mereka—dan meskipun Maslow tidak sepenuhnya setuju—dia memiliki gagasan sendiri tentang cara memahami pikiran manusia. Sehingga saat itu disiplin psikologi humanistiknya disebutkan sebagai sesuatu yang baru dan luar biasa.Maslow telah menjadi seorang ayah ketika berusia 33 tahun dan memiliki dua anak saat negara adikuasa Amerika Serikat memasuki Perang Dunia II yaitu pada tahun 1941. Saat itu ia tidak tertarik mengikuti kegiatan militer, dimana kengerian perang (bukan terinspirasi visi perdamaian dalam dirinya) membuatnya melakukan studi psikologis terobosan untuk manusia dapat mengaktualisasikan diri.Studi tersebut dimulai dengan arahan dua mentornya, yaitu antropolog Ruth Benedict dan psikolog Gestalt Max Wertheimer, yang ia kagumi baik secara profesional dan kehidupan pribadi. Keduanya memang begitu berhasil di bidangnya masing-masing, dan sikap mereka yang terkesan rendah hati kepada siapa saja, seperti “manusia biasa”, sehingga menginspirasi Maslow untuk mulai membuat catatan tentang mereka, khususnya kepribadian mereka berdua. Selanjutnya, melalui pribadi kedua mentornya tersebut, Maslow mendalami konsep “perilaku manusia”, yang dengan bekal ini, Maslow merumuskan konsep “hierarki kebutuhan” yaitu dengan rincian konsep metaneeds, metamotivation, serta aktualisasi diri orang dan puncak pengalaman.Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis sekitar tahun 1951-1969, dan kemudian menjadi bagian dari Laughlin Institute di California. Selanjutnya, Maslow bangkit menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Ia menghabiskan masa pensiunnya di California, sampai meninggal karena serangan jantung pada tanggal 8 Juni 1970.Kemudian Maslow dianugerahkan gelar terhormat dalam dunia ilmuwan sepanjang masa, yaitu “Humanist of The Year” oleh Asosiasi Humanis Amerika pada tahun 1967. Saat itu, Maslow terkena serangan jantung yang sangat fatal, dan diketahui waktunya terbatas. Kemudian, Maslow merasa bahwa sebagai pelopor psikologis, sebelum ajalnya tiba, dia harus memberikan dorongan psikolog masa depan dengan membawa konsep ini ke jalur yang berbeda dalam cahaya perenungannya. Maslow membangun kerangka psikologi humanistiknya yang selanjutnya diizinkan psikolog lain untuk menambahkan informasi lebih lanjut. Pada penghujung hidupnya, Maslow percaya bahwa kepemimpinan harus non-intervensi. Dia sangat konsisten dengan pendekatan ini, sehingga ia menolak nominasi pada tahun 1963 untuk menjadi Presiden dari Asosiasi Psikologi Humanistik, karena bagi Maslow, organisasi seharusnya mengembangkan gerakan intelektual tanpa pemimpin.Hingga akhirnya, kehidupan sang jenius Yahudi ini berakhir ketika sedang melakukan olahraga jogging, lalu secara tiba-tiba serangan jantung menyerangnya saat itu, dan membuatnya menghembuskan nafas terakhir tepat tanggal 8 Juni 1970, pada usia 62 tahun di kota Menlo Park, California.******Dikutip dari Buku ” Pendidikan Berbasis Goblok” (Halaman 95-102)
ISBN: 978-602-74103-8-1
Tahun terbit: 2017
Penerbit: Desna Life Ministry
Kota: Kupang

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar