WABAH SELFIE

Oleh: Rogasianus D. Ruing

Berfoto adalah hal yang lumrah bagi setiap orang. Apalagi jika kita sedang berlibur bersama keluarga, teman atau pacar. Berfoto sering kita lakukan ketika kita ingin mengabadikan sesuatu yang berharga untuk dikenang, atau sekedar koleksi pribadi.

Berfoto juga tidak harus dari kalangan anak muda saja, tetapi semua kalangan usia juga dapat berfoto. Akibat dari kian banyaknya orang yang suka berfoto, timbulah trend yang disebut “selfie”. Kata selfie mungkin sudah tidak asing lagi bagi anak-anak remaja saat ini. Bahkan sudah mendunia. Saat ini, selfie sudah jadi kegiatan yang wajib dilakukan dalam berbagai kesempatan. Berkat perkembangan jaman serba yang digital (dunia cyber), trend ini tercium dan membooming hingga terjadi di Kota Kupang-NTT, dimana baik kalangan atas sampai menengah ke bawah, berlomba-lomba memposting berbagai jenis foto di berbagai akun media sosial. Beberapa orang ‘ketagihan’ foto selfie karena senangnya mendapat respon positif dari orang lain ketika mempostingnya melalui sosial media.

Selfie adalah foto diri sendiri, yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau kamera HP, dsb. Kebiasaan orang yang suka selfie inipun didukung oleh berkembangnya kamera yang kian canggih dan lini masa media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram, yang untuk menyimpan atau memposting foto-foto di media sosial. Bahkan tingkat penilaiannya di ukur dari seberapa ekstrim tempat dan momen saat selfie. Ironisnya, karena banyak respon positif dan pujian terhadap foto yang di posting, maka orang-orang seakan lupa diri, karena terus disanjung, dan mulai memposting berbagai foto dari yang wajar-wajar saja, sampai dengan yang seharusnya privasi kemudian dipublikasikan.

Berawal dari gila foto hingga viralnya adalah salah satu kalimat: ‘’kaks Cannon beta dow”, kalimat ini secara jelas-jelas penggunaannya “tidak dibenarkan”, karena cannon sendiri adalah merk kamera, bukan kata kerja (predikat). Saking Gila Foto (baca: Gifo) ada juga yang tak peduli dengan kondisi ekonomi, dimana dulunya hanya memakai kamera ponsel, kini semua berlomba membeli bahkan menyewa kamera DLSR atau jenis kamera yang lebih merogo kocek, demi hasil yang lebih memuaskan. Dalam fenomena ini, dapat dikatakan bahwa, masih banyak segelintir orang terpenjara dalam wabah Narsisme, yang senang dengan segala sesuatu yang semu, dalam arti “citra mendahului kenyataan”.

Ya, akibat antusiasme terhadap kegiatan foto-foto ini, maka banyak fotografer dan model kacangan yang sepaket (satu paketan) mulai bermunculan. Walau hasil foto, gaya, dan kostumnya masih terpaut jauh dari yang profesional, namun setidaknya sudah ada calon-calon fotografer yang profesional …. ! Salam

Mutiara dalam Kalimat:
Selalu ada kegilaan dalam cinta. Tapi juga selalu ada alasan dalam kegilaan (Friedrich Nietzsche)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Komentar

  1. Ping-balik: grote blote tieten